Sabtu, 09 Februari 2013

Kini Kau Bukan Lagi " Teman Ku "

Syukurku padaMu, Kau perkenalkan aku dengan banyak hambaMu uuntuk menjalin erat ikatan ukhuwah, begitu pun bahagiaku Kau hadiahkan untukku rasa cinta pada hamba-hambaMu hingga aku bisa lebih mengenalMu lewat makhluk yang Kau ciptakan. Dan aku memiliki seorang “teman” dari sekian banyak hambaMu. Aku paham, ini bukanlah hal yang luar biasa, namun kutanggapi dengan keluarbiasaan. Aku menjadikannya teman dalam tanda kutip. Mungkin ada beberapa yang kuharapkan darinya, tapi sebenarnya tidak jelas antara harap dan tidak. Kutandai dia sebagai teman dalam tanda kutip. Tidak sama dengan temanku lainnya. Dan harus aku tau, aku tidak sedang berbicara tentang sesama jenisku. Berulangkali, bahagia dengan keberadaannya, dan berulangkali juga aku cemas dengan tingkahnya. Seolah-olah dia adalah tawananku yang tidak layak beranjak sedikit pun dari pengawasanku. Baik dari Facebook, SMS, atau selintingan cerita dari orang-orang terdekatnya, atau media lainnya yang terkait dengan namanya. Aku paham, dia adalah teman dalam tanda kutip. Seraya lelah kumencari kabar tentangnya, dan sesekali sedih berhampir “ah.. mungkin dia sudah melupakanku “, namun sesekali juga bahagia bertandang, “oh.. dia masih mengingatku..“. Alangkah payah membersamai ketidakpastiaan. Hubungan yang tidak jelas titik terangnya. Antara ukhuwah dan cinta. Seraya meraba, yang mana yang akan dipilih. Sibuk memantau status FB-nya, sambil baca-baca komentnya ke beberapa orang. Akan sedih dan bingung ketika ada akhwat lain yang ngelike statusnya atau akhwat lain yang dia koment statusnya. Hmmm.. intinya, tidak terima keterkaitannya dengan akhwat lain. Hmmm.. agak egois memang. Dan lebih anehnya lagi, lelah memikirkan makna-makna yang ada dari sms-sms yang dia kirim. Seolah menjadi mufassir. “bisa jadi ,,, bisa jadi ,,, mungkin ,,, mungkin ,,, “, dan banyak lagi kalimat mengira-ngira lainnya. Menjadi mufassir atas tingkahnya yang bisa jadi biasa, namun dianggap luar biasa. Dan akhirnya, setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas ga jelas ini, kuputuskan bahwa hal ini sia-sia, melelahkan, menjemukan, membosankan. Dan seharusnya tafsiran yang harus ku cari lebih dahulu adalah “apa hubunganku dengannya? “. Aku yakin, kita bukan saudara sedarah yang harus ku tinjau perkembangannya, walau pun haqqul yakin kita adalah saudara seiman, seakidah yang harus saling menunaikan hak. Oleh Karena itu, sudah selayaknya statusnya kuubah saat ini juga, status yang membuatku kelimpungan mengintai FB-nya, membuatku kebingungan menafsir maksud pesan singkatnya. Jadi, dengarlah lewat alam bawah sadarmu, kalau sekarang kau adalah temanku, bukan teman dalam tanda kutip. Ingatkan aku jika terlupa membuat tanda kutip atas statusmu sebagai teman.

Jangan Menunda, Bersegeralah

Catatan Oase ini ini mungkin tak pernah ada kalau saja pada tanggal 7 Mei 2006, saat subuh, saya tidak berangkat ke masjid. Sebab, saya mungkin sudah mendapati takdir ajal, atau cacat permanen. Tidak ada firasat apapun waktu menjelang ke masjid. Saya berjalan seperti biasa, langkah yang kurang tegap menahan kantuk menuju masjid. Menyusuri dingin pagi dan berharap hari itu terjadi keajaiban. Sehabis shalat, saya bercengkerama dengan beberapa sahabat, menikmati hangatnya persaudaraan. Kami mulai melangkah keluar masjid dan mengambil napas dalam-dalam. Nikmatnya pagi. Benar, begitu sampai di depan pintu rumah, keajaiban itu terjadi. kami merasakan tanah bergetar dan bergoyang keras. Dan orang-orang di jalan berteriak. Ya, ini namanya lindhu atau gempa. Saya seperti orang bodoh yang hanya bisa ikut-ikutan berteriak, menginstruksikan kepada seisi rumah untuk segera bangun dan berhambur keluar. Tetapi kejadian itu sangat singkat, hanya dalam hitungan menit beberapa rumah sudah miring. kemudian genteng berjatuhan dan satu per satu pecahan tembok itu runtuh. Gemuruh bumi berpadu dengan jerit orang-orang terjepit, orang-orang terjebak, dan mungkin, jerit orang sekarat. Setengah jam setelah itu situasi tidak terkendali. Di jalan, sirine ambulans dan klakson panjang tak henti-henti. Kami menyibak reruntuhan genteng, dan mengangkat beberapa orang. Tidak semua, tetapi sebagian besar di antara mereka masih menggunakan baju tidur, sebagian menggunakan kaos singlet dan sarung. Orang-orang yang menikmati tidur. Kami terus menerus mengucap tahmid dan takbir. Bersyukur dan takjub, betapa Allah menyelamatkan kami dan ribuan orang-orang yang saat gelap tadi melangkahkan kakinya ke masjid. Kami ingin memahami, bahwa getaran bumi-Nya memberi pelajaran kepada orang-orang yang mengabaikan seruan mu’adzin. Pagi, diciptakan oleh-Nya untuk memberi kesempatan kepada manusia mengambil posisi start lomba paling baik. Pada saat gempa di Jogja itu, seruan subuh memberi kesempatan kepada para jamaah masjid untuk mengambil start terbaik dalam perlombaan menghindari bencana. Mereka yang terlelap belum sampai pada posisi start, padahal detik-detik lomba telah dimulai. Maka begitu ‘pistol’ lomba diletupkan, orang-orang bergamislah yang berkesempatan untuk menang. Maka Allah tetapkan waktu-waktu shalat dengan jadwal terbaiknya. Waktu-waktu sholat itu ditetapkan-Nya sebagai pembatas, agar manusia menata ulang langkah dan mempersiapkan terobosan penting. Banyak kejutan-kejutan yang Allah ciptakan, Ia rahasiakan kejadiannya sehingga manusia mengambil hikmah darinya. Bergegas (bukan tergesa-gesa) adalah filosofi juara. Mereka yang bergegas ke pasar di pagi hari mendapat begitu banyak peluang dagangannya laris dan bertemu rekan sesamanya. Mereka yang bergegas membeli tiket tidak akan terjebak dalam antrean panjang depan loket. Mereka yang bergegas ke kantor tidak terjebak kemacetan. Mereka yang bergegas berobat terselamatkan dari ancaman penyakit akut. Orang-orang yang bergegas taubat selamat dari ancaman kematian suu’ul khotimah. Para pemuda yang bersegera menikah akan mendapat kebahagiaan. Maka, kaum muslimin dianjurkan menyegerakan menuju shalat di masjid (fas’au ila dzikrillah) karena Allah menyimpan rahasia besar yang diperebutkan oleh manusia: imbalan sebaik-baiknya, seagung-agungnya. Tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.

Galau Tanda Tak Mampu

Galau, sebuah kata yang akhir-akhir ini nge-trend dikalangan remaja dan kaum muda di negeri ini. Kata yang menggambarkan suasana hati seseorang yang sedang kacau, bingung, resah, gelisah dan sedih. Merasa ada sesuatu yang ingin diutarakan namun belum tersampaikan, atau sesuatu yang ingin dilakukan namun belum terealisasikan. Apapun definisinya? Galau adalah sebuah penyikapan yang dilakukan oleh seseorang atas masalah yang menimpanya. Setiap orang memiliki masalah dengan kadar yang berbeda, perbedaan itu telah sedemikian sempurna hingga mustahil Allah memberikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh hambaNya. Allah menguji kita sesuai tingkat keimanan kita kepada-Nya. Ujian dari Allah bertujuan untuk membuktikan kebenaran keyakinan keimanan seseorang, apakah ia layak disebut orang beriman ataukan orang munafik yang hanya menampakkan zahirnya dan menyembunyikan batinnya. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155) Berbagai cara dilakukan untuk menyelesaikan masalah ataupun kegalauan yang menimpa seseorang. Sebagaian besar memanfaatkan jejaring sosial sebagai media mempublikasikan kegalauannya. Mayoritas orang yang galau suka melebih-lebihkan masalah yang menimpanya. Hal yang mereka lakukan ini adalah bukti bahwa mereka adalah orang yang tak mampu menerima ujian yang menimpanya. Penyikapan seseorang atas masalah yang menimpanya menunjukkan tingkat pemahaman mereka terhadap masalah itu sendiri. “Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS Al Baqarah: 284) Penggalau adalah sedikit orang yang tak mampu menyalurkan resah mereka dengan cara yang benar, padahal cukuplah Allah bagi kita, tidak ada Tuhan selain diriNya. Hanya kepadaNya kita bertawakkal..” Status berisi keluhan, kegalauan, kebimbangan kadang ditulis dengan berlebihan, padahal mengeluh tidak menyelesaikan masalah yang menimpanya. Galau tidak memberikan solusi atas masalah seseorang. Galau hanya menambah beban bagi pelakunya. Kegalauan seseorang menunjukkan bahwa ia tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, padahal Allah telah berjanji bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Penggalau adalah orang yang tak mampu menemukan solusi yang hakiki. Mereka mencari solusi pada tempat yang mustahil memberikan solusi. Padahal sudah jelas bahwa sabar dan shalat adalah sebaik-baik cara untuk mendapatkan solusi yang hakiki. “Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan Sabar dan Sholat dan sesungguhnya Sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS Al Baqarah: 45) Allah SWT adalah Rabb yang Maha Baik, maka apapun yang Dia tetapkan adalah kebaikan. Penggalau tak mampu memahami bahwa semua yang Allah tetapkan kepada makhluk-Nya adalah baik. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.Orang yang galau adalah orang yang tak mampu mengetahui hakikat dari ujian yang menimpa dirinya padahal sungguh tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kita melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Allah SWT menciptakan kita. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Orang-orang yang galau adalah orang yang belum mampu bersyukur, padahal sesungguhnya ujian dan cobaan, susah dan senang, gagal dan sukses semua adalah nikmat yang patut kita syukuri. Nikmat karena sungguh terdapat hikmah bagi orang-orang yang berfikir. Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan adalah kebaikan baginya, dan hal ini tidak diberikan kepada seorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika ditimpa bencana maka ia selalu bersabar dan itu adalah baik baginya. Kesenangan, kesuksesan dan kenikmatan mengajarkan kita bagaimana bersyukur dan lebih memacu dalam berbuat kebaikan sehingga Allah pun menambahkan nikmat-Nya lebih banyak lagi. Sedangkan ujian, cobaan, kesusahan dan kegagalan akan membuat kita lebih berhati-hati dan merupakan sebuah peringatan dari Allah SWT agar tidak larut dalam kemaksiatan. Penggalau adalah orang yang tak mampu memahami bahwa masalah yang menimpanya adalah ujian yang dapat meningkatkan derajatnya disisi Allah. Bagai seseorang yang akan naik kelas maka pasti akan diuji terlebih dahulu, jika ia mampu menyelesaikan ujian itu ia akan lulus, namun jika gagal maka ia akan tetap pada kelasnya. Begitupun ujian dalam kehidupan ini, berat dan ringannya ujian di sesuaikan dengan kedudukannya dihadapan Allah. Para nabi adalah orang yang paling banyak mendapat ujian. Seseorang diuji berdasar tingkat ketaatannya kepada Allah SWT. Jika ia adalah orang yang kuat agamanya, maka kuat pula ujian baginya. Bagai sebuah permisalan semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya. Orang yang sedang galau adalah orang yang tak mampu bersabar atas ujian dari Allah SWT. Merasa diri mereka sebagai orang yang paling menderita, mengumbar seakan-akan lemah tak berdaya. Padahal sesungguhnya musibah dan masalah adalah sarana untuk melatih kesabaran. Kita tidak akan dapat bertahan dalam sebuah kebaikan kecuali dengan bersabar. Kita tidak dapat mentaati Allah SWT dan menjauhi kebatilan kecuali dengan sabar. Surga adalah hadiah tertinggi bagi orang-orang yang sabar dalam ujian.Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu.

CHANGE

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]:11) “Perubahan adalah suatu keniscayaan,” begitulah yang sering saya dengar. Semua orang meyakini bahwa perubahan adalah hal yang lumrah. Bahkan ada kalimat populer yang berbunyi “Tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.” Agar bisa bertahan, manusia harus berubah. Perubahan itu berlaku dalam berbagai aspek, semisal perniagaan, busana, gaya hidup, hobi, perilaku, dan lain sebagainya. Pada suatu hari di akhir Ramadhan, saya dan kakak sepupu berkeliling pasar untuk mencari jajanan lebaran. Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kakak sepupu saya berkata, “Sekarang banyak toko yang sepi karena disaingi pasar swalayan yang bertebaran di mana-mana. Kalau mereka itu tidak segera merubah cara berjualan, aku yakin tak lama lagi mereka akan bangkrut.” Sedikit menganalisis, yang dikatakan kakak saya itu benar adanya. Dulu, kita sering membeli barang di toko dengan layanan langsung dari penjual atau direct service. Seiring berjalannya waktu, sistem pelayanan langsung berganti menjadi pelayanan mandiri (swalayan), dengan alasan pelayanan mandiri dinilai lebih praktis dan memudahkancustomers memilih barang yang akan mereka beli. Bisa kita lihat, sekarang banyak toko-toko yang berubah menjadi swalayan. Alasan mereka mau berubah cukup simpel, mereka tidak mau tergusur oleh perubahan zaman. Begitu pun dengan cara berbusana. Kalau tahun ’80-an kita pergi ke kampus dengan celana kain ‘samba’ atau cutbray (bagian atas ketat dan bagian bawah terlihat lebih lebar), bersepatu pantofel, kemeja dimasukkan, ikat pinggang berbahan kulit, kacamata besar, dan dasi kupu-kupu terpasang rapi di leher, kita bisa disebut mahasiswa gaul. Kalau sekarang busana itu kita pakai ke kampus, bisa-bisa kita dijuluki sebagai mahasiswa jadoel, alias jaman doeloe. Pada aspek penampilan fisik, seseorang yang tidak berubah mengikuti perkembangan zaman, biasa dijuluki sebagai orang katrok, konvensional, kuno, ndeso, dan lain sebagainya. Kini, banyak orang keranjingan berburu tren. Mereka berlomba-lomba memoles penampilan fisik dan merevolusi gaya hidup agar tidak dianggap katrok ataundeso. Untuk bertahan, perubahan memang perlu dilakukan. Perubahan Harus Berjalan Seimbang Perubahan tidak hanya dilakukan pada aspek penampilan saja. Pola pikir dan perasaan juga harus ikut diubah. Dalam tiga aspek; mind (pikiran/otak), body (penampilan/tubuh), dan soul (perasaan/hati) harus ada mekanisme perubahan yang beriringan. Tidak timpang kepada salah satunya. Timpang dalam melakukan perubahan hanya akan membawa dampak buruk. Misalnya, fenomena tren busana yang berlaku saat ini. Banyak orang, terutama para remaja, berusaha untuk merubah penampilan dan cara berbusana mereka. Sayangnya, mereka berubah sambil menutup mata, alias hanya ikut-ikutan mode yang sedang ngetrend. Ketika ada mode baru, spontan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki akan mereka ubah. Semuanya tanpa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dampaknya, para wanita mulai berani mengekspos tubuh mereka, mengumbar aurat secara blak-blakan, para laki-laki mulai berpenampilan seperti wanita, yang itu semua menjadi tanda kerusakan moral. Fenomena itu terjadi karena adanya ketimpangan antara perubahan body dengan minddan soul. Mereka hanya mementingkan body tanpa mengindahkan mind dan soul. Ketika perubahan penampilan tubuh lebih ditonjolkan, otak perlahan tak bisa berpikir logis. Busana yang fungsi utamanya adalah menutup aurat, kini hanya dipakai sebagai assessoris dan pelengkap. Apalagi jika perubahannya dibenturkan dengan hati, moral, dan agama. Imbasnya, orang yang bermode menggunakan parameter ‘kelayakan’ dan ‘kepatutan’ sudah mulai berkurang, karena semua mulai menggunakan parameter ‘keindahan’. “Yang penting indah, patut atau tidak urusan belakangan!” Naudzubillah.. Busana hanyalah salah satu contoh. Masih banyak contoh lain perubahan penampilan yang tidak disertai perubahan mindset dan moral. Sebut saja perubahan teknologi, gaya hidup, dan lain-lain. Beberapa kali Al-Qur’an menceritakan fenomena perubahan seperti yang disinggung sebelumnya. Mulai dari Bani Israil yang diselamatkan oleh Nabi Musa alaihissalam, sampai Kaum ‘Ad dan Tsamud dengan kemajuan teknologi mereka. Bani Israil memang tidak merubah nasib dengan tangan mereka sendiri, tetapi setidaknya ‘kesediaan’ mereka untuk berpihak kepada Nabi Musa menjadi faktor perubahan nasib mereka. Namun seperti yang diceritakan panjang lebar di dalam Al-Qur’an, Bani Israil hanya berorientasi pada perubahan fisik dan keduniaan. Ketika Allah menurunkan kepada mereka semacam makanan yang khair (lebih baik), mereka malah meminta makanan yang beraneka macam karena bosan dengan satu macam makanan saja. Padahal di mata Allah, sesuatu yang mereka minta itu lebih adna (rendah) kualitasnya. Beda lagi dengan Kaum ‘Ad dan Tsamud. Dengan kemajuan teknologi yang mereka miliki, Kaum ‘Ad sanggup membangun gedung-gedung yang tinggi, sedangkan Kaum Tsamud mampu memahat gunung untuk dijadikan hunian. Sayangnya, kemampuan mereka hanya untuk memfasilitasi keangkuhan mereka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bertujuan untuk menghindari kematian dan kebinasaan. Mereka lupa, bahwa Allah ‘azza wa jalla Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.

ADA KEKUATAN PADA DIRIMU

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM.. Ada kekuatan di dalam cinta, Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat. Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan Dan tidak mudah diombang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kesabaran, Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti. Ada kekuatan di dalam kemurahan, Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya. Ada kekuatan di dalam kebaikan, Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, Orang yang setia adalah orang yang kuat, Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi Dengan kesetiaannya untuk berbakti kepada Allah swt dan kesetiaan kepada sesama. Ada kekuatan di dalam kelemah- lembutan, Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat, Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat. Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.