Sabtu, 31 Maret 2012

Kisah Taubatnya 3 Wanita Syiah

Bismillahirrahmaanirrahiem, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi dan Rasul termulia, junjungan kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung, kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami bertawakkal. Engkaulah Yang Memulai dan Mengulangi, Ya Allah kami berlind...ung dari kejahatan perbuatan kami dan minta tolong kepada-Mu untuk selalu menaati-Mu, dan kepada-Mu lah kami bertawakkal atas setiap urusan kami. Semenjak lahir, yang kutahu dari akidahku hanyalah ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait. Kami dahulu memohon pertolongan kepada mereka, bersumpah atas nama mereka dan kembali kepada mereka tiap menghadapi bencana. Aku dan kedua saudariku telah benar-benar meresapi akidah ini sejak kanak-kanak. Kami memang berasal dari keluarga syi’ah asli. Kami tidak mengenal tentang mazhab ahlussunnah wal jama’ah kecuali bahwa mereka adalah musuh-musuh ahlulbait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Mereka lah yang merampas kekhalifahan dari tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu’anhu, dan merekalah yang membunuh Husain. Akidah ini semakin tertanam kuat dalam diri kami lewat hari-hari “Tahrim”, yaitu hari berkabung atas ahlul bait, demikian pula apa yang diucapkan oleh syaikh kami dalam perayaan Husainiyyah dan kaset-kaset ratapan yang memenuhi laciku. Aku tak mengetahui tentang akidah mereka (ahlussunnah) sedikitpun. Semua yang kuketahui tentang mereka hanyalah bahwa mereka orang-orang munafik yang ingin menyudutkan ahlul bait yang mulia. Faktor-faktor di atas sudah cukup untuk menyebabkan timbulnya kebencian yang mendalam terhadap penganut mazhab itu, mazhab ahlussunnah wal jama’ah. Benar… Aku membenci mereka sebesar kecintaanku kepada para Imam. Aku membenci mereka sesuai dengan anggapan syi’ah sebagai pihak yang terzhalimi. Keterkejutan pertama Ketika itu Aku sedang duduk di sekolah dasar. Di sekolah aku mendengar penjelasan Bu Guru tentang mata pelajaran tauhid. Beliau berbicara tentang syirik, dan mengatakan bahwa menyeru selain Allah termasuk bentuk menyekutukan Allah. Contohnya seperti ketika seseorang berkata dalam doanya: “Hai Fulan, selamatkan Aku dari bencana… tolonglah Aku” lanjut Bu Guru. Maka kukatakan kepadanya: Bu, kami mengatakan “Ya Ali”, apakah itu juga termasuk syirik? Sejenak kulihat beliau terdiam… seluruh murid di sekolahku, dan sebagian besar guru-gurunya memang menganut mazhab syi’ah… kemudian Bu Guru berkata dengan nada yakin: “Iya, itu syirik” kemudian langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku: “Bukankah doa adalah ibadah?” “Tidak tahu”, jawabku. “Coba perhatikan, apa yang Allah katakan tentang doa berikut”, lanjutnya seraya membaca firman Allah: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Ghaafir: 60). “Bukankah dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa berdoa adalah ibadah, lalu mengancam orang yang enggan dan takabbur terhadap ibadah tersebut dengan Neraka?” tanyanya. Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku merasakan suatu kejanggalan… aku merasa kecewa… segudang perasaan menggelayuti benakku tanpa bisa kuungkapkan. Saat itu aku berangan-angan andaikan aku tak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Lalu kutatap dia untuk kedua kalinya… ia tetap tegar laksana gunung. Waktu pulang kutunggu dengan penuh kesabaran, Aku berharap barangkali ayah dapat memberi solusi atas permasalahanku ini… maka sepulangku dari sekolah, kutanya ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Bu Guru tadi. Ayah serta merta mengatakan bahwa Bu Guru itu termasuk yang membenci Imam Ali. Ia mengatakan bahwa kami tidaklah menyembah Amirul Mukminin, kami tidak mengatakan bahwa dia adalah Allah sehingga Gurumu bisa menuduh kami telah berbuat syirik… jelas ayah. Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban ayahku, sebab Bu Guru berdalil dengan firman Allah. Ayah lalu berusaha menjelaskan kepadaku kesalahan mazhab sunni hingga kebencianku semakin bertambah, dan aku semakin yakin akan batilnya mazhab mereka. Aku pun tetap memegangi mazhabku, mazhab syi’ah; hingga adik perempuanku melanjutkan karirnya sebagai pegawai di Departemen Kesehatan. Sekarang, biarlah adikku yang melanjutkan ceritanya… Setelah masuk ke dunia kerja, aku berkenalan dengan seorang akhwat ahlussunnah wal jama’ah. Ia seorang akhwat yang multazimah (taat) dan berakhlak mulia. Ia disukai oleh semua golongan, baik sunni maupun syi’ah. Aku pun demikian mencintainya, dan berangan-angan andai saja dia bermazhab syi’ah. Saking cintanya, aku sampai berusaha agar jam kerjaku bertepatan dengan jam kerjanya, dan aku sering kali bicara lewat telepon dengannya usai jam kerja. Ibu dan saudara-saudaraku tahu betapa erat kaitanku dengannya, sebab itu aku tak pernah berterus terang kepada mereka tentang akidah sahabatku ini, namun kukatakan kepada mereka bahwa dia seorang syi’ah, tak lain agar mereka tidak mengganggu hubunganku dengannya. Permulaan hidayah Hari ini, aku dan sahabatku berada pada shift yang sama. Kutanya dia: “Mengapa di sana ada sunni dan syi’ah, dan mengapa terjadi perpecahan ini?” Ia pun menjawab dengan lembut: “Ukhti, sebelumnya maafkan aku atas apa yang akan kuucapkan… sebenarnya kalianlah yang memisahkan diri dari agama, kalian yang memisahkan diri dari Al Qur’an dan kalian yang memisahkan diri dari tauhid!!” Kata-katanya terdengar laksana halilintar yang menembus hati dan pikiranku. Aku memang orang yang paling sedikit mempelajari mazhab di antara saudari-saudariku. Ia kemudian berkata: “Tahukah kamu bahwa ulama-ulama kalian meyakini bahwa Al Qur’an telah dirubah-rubah, meyakini bahwa segala sesuatu ada di tangan Imam, mereka menyekutukan Allah, dan seterusnya…?” sembari menyebut sejumlah masalah yang kuharap agar ia diam karena aku tidak mempercayai semua itu. Menjelang berakhirnya jam kerja, sahabatku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya seraya mengatakan bahwa itu adalah tulisan saudaranya, berkenaan dengan haramnya berdoa kepada selain Allah. Kuambil lembaran-lembaran tersebut, dan dalam perjalanan pulang aku meraba-rabanya sambil merenungkan ucapan sahabatku tadi. Aku masuk ke rumah dan kukunci pintu kamarku. Lalu mulailah kubaca tulisan tersebut. Memang, hal ini menarik perhatianku dan membuatku sering merenungkannya. Pada hari berikutnya, sahabatku memberiku sebuah buku berjudul “Lillaah, tsumma littaariekh” (Karena Allah, kemudian karena sejarah). Sumpah demi Allah, berulang kali aku tersentak membaca apa yang tertulis di dalamnya. Inikah agama kita orang syi’ah? Inikah keyakinan kita?!! Sahabatku pun semakin akrab kepadaku. Ia menjelaskan hakikat banyak hal kepadaku. Ia mengatakan bahwa ahlussunnah mencintai Amirul Mukminin dan keluarganya. Benar… aku pun beralih menganut mazhab ahlussunnah tanpa diketahui oleh seorang pun dari keluargaku. Sahabatku ini selalu menghubungiku lewat telepon. Bahkan saking seringnya, ia sempat berkenalan dengan kakak perempuanku. Sekarang, biarlah kakakku yang melanjutkan ceritanya… Aku mulai berkenalan dengan akhwat yang baik ini. Sungguh demi Allah, aku jadi cinta kepadanya karena demikian sering mendengar cerita adikku tentangnya. Maka begitu mendengar langsung kata-katanya, aku semakin cinta kepadanya… Permulaan hidayah Hari itu, aku sedang membersihkan rumah dan adikku sedang bekerja di kantor. Aku menemukan sebuah buku bergambar yang berjudul: “Lillaah, tsumma littaariekh”. Aku pun membukanya lalu membacanya… sungguh demi Allah, belum genap sepuluh halaman, aku merasa lemas dan tak sanggup merampungkan tugasku membersihkan rumah. Coba bayangkan, dalam sekejap, akidah yang ditanamkan kepadaku selama lebih dari 20 tahun hancur lebur seketika. Aku menunggu-nunggu kembalinya adikku dari kantornya. Lalu kutanya dia: “Buku apa ini?” “Itu pemberian salah seorang suster di rumah sakit”, jawabnya. “Kau sudah membacanya?” tanyaku. “Iya, aku sudah membacanya dan aku yakin bahwa mazhab kita keliru”, jawabnya. “Bagaimana denganmu?” tanyanya. “Baru beberapa halaman” jawabku. “Bagaimana pendapatmu tentangnya?” tukasnya. “Kurasa ini semua dusta, sebab kalau benar berarti kita betul-betul sesat dong”, sahutku. “Mengapa tidak kita tanyakan saja isinya kepada Syaikh?” pintaku. “Wah, ide bagus” katanya. Buku itu lantas kukirimkan kepada Syaikh melalui adik laki-lakiku. Kuminta agar ia menanyakan kepada Syaikh apakah yang tertulis di dalamnya benar, ataukah sekedar kebohongan dan omong kosong? Adikku mendatangi Syaikh tersebut dan memberinya buku itu. Maka Syaikh bertanya kepadanya: “Dari mana kau dapat buku ini?” “Itu pemberian salah seorang suster kepada kakakku” jawabnya. “Biarlah kubaca dulu” kata Syaikh, sembari aku berharap dalam hati agar kelak ia mengatakan bahwa semuanya merupakan kebohongan atas kaum syi’ah. Akan tetapi, jauh panggang dari api! Kebatilan pastilah akan sirna… Aku terus menunggu jawaban dari Syaikh selama sepuluh hari. Harapanku tetap sama, barang kali aku mendapatkan sesuatu darinya yang melegakan hati. Namun selama sepuluh hari tadi, aku telah mengalami banyak perubahan. Kini sahabat adikku sering berbicara panjang lebar denganku lewat telepon, bahkan ia seakan lupa kalau mulanya ia ingin bicara dengan adikku. Kami bicara panjang lebar tentang berabagai masalah. Pernah suatu ketika ia menanyaiku: “Apa kau puas dengan apa yang kita amalkan sebagai orang syi’ah selama ini?”. Aku mengira bahwa dia adalah syi’ah, dan dia tahu akan hal itu… “Kurasa apa kita berada di atas jalan yang benar”, jawabku. “Lalu apa pendapatmu terhadap buku milik adikmu?” tukasnya. Akupun terdiam sejenak… lalu kataku: “Buku itu telah kuberikan ke salah seorang Syaikh agar ia menjelaskan hakikat buku itu sebenarnya”. “Kurasa ia takkan memberimu jawaban yang bermanfaat, aku telah membacanya sebelummu berulang kali dan kuselidiki kebenaran isinya… ternyata apa yang dikandungnya memang sebuah kebenaran yang pahit”, jelasnya. “Aku pun menjadi yakin bahwa apa yang kita yakini selama ini adalah batil” lanjutnya. Kami terus berbincang lewat telepon dan sebagian besar perbincangan itu mengenai masalah tauhid, ibadah kepada Allah dan kepercayaan kaum syi’ah yang keliru. Tiap hari bersamaan dengan kepulangan adikku dari kantor, ia menitipkan beberapa lembar brosur tentang akidah syi’ah, dan selama itu aku berada dalam kebingungan… Aku teringat kembali akan perkataan Bu Guru yang selama ini terlupakan. Kuutus adik lelakiku untuk menemui Syaikh dan meminta kembali kitab tersebut beserta bantahannya. Akan tetapi sumpah demi Allah, lagi-lagi Syaikh ini mengelak untuk bertemu dengan adikku. Padahal sebelumnya ia selalu mencari adikku, dan kini adikku yang justru menelponnya. Namun keluarga Syaikh mengatakan bahwa dia tidak ada, dan ketika adikku bertemu dengannya dalam acara Husainiyyah[1] dan menanyakan kitab tersebut; Syaikh hanya mengatakan: “Nanti”, demikian seterusnya selama dua bulan. Selama itu, hubunganku dengan sahabat adikku lewat telepon semakin sering, dan di sela-selanya ia menjelaskan kepadaku bahwa dirinya seorang sunni, alias ahlussunnah wal jama’ah. Dia berkata kepadaku: “Jujur saja, apa yang membuat kalian membenci Ahlussunnah wal Jama’ah?” Aku sempat ragu sejenak, namun kujawab: “Karena kebencian mereka terhadap Ahlulbait”. “Hai Ukhti, Ahlussunnah justeru mencintai mereka”, jawabnya. Kemudian ia menerangkan panjang lebar tentang kecintaan Ahlussunnah terhadap seluruh keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beda dengan Syi’ah Rafidhah yang justeru membenci sebagian ahlul bait seperti isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Benar, kini aku tahu tentang akidah Ahlussunnah wa Jama’ah dan aku mulai mencintai akidah yang sesuai dengan fitrah dan jauh dari sikap ghuluw (ekstrim)… jauh dari syirik… dan jauh dari kedustaan. Kebenaran yang sesungguhnya mulai tampak bagiku, dan aku pun bingung apakah aku harus meninggalkan agama nenek moyang dan keluargaku? Ataukah meninggalkan agama yang murni, ridha Allah dan Jannah-Nya?? Ya, akhirnya kupilih yang kedua dan aku menjadi seorang ahlussunnah wal jama’ah. Aku kemudian menghubungi akhwat yang shalihah tadi dan kunyatakan kepadanya bahwa hari ini aku ‘terlahir kembali’. Aku seorang sunni, alias Ahlussunnah wal Jama’ah. Akhwat tersebut mengucapkan takbir lewat telepon, maka seketika itu meleleh lah air mataku… air mata yang membersihkan sanubari dari peninggalan akidah syi’ah yang sarat dengan syirik, bid’ah dan khurafat… Demikianlah… dan tak lama setelah kami mendapat hidayah, adik kami yang paling kecil serta salah seorang sahabatku juga mendapat hidayah atas karunia Allah subhanahu wata’aala. ____ (Saudari-saudari kalian yang telah bertaubat) [1] Ritual kaum Syi’ah dalam rangka memperingati syahidnya Imam Husain bin Ali Radhiyallohu’anhu.

Jual Beli Amanah

1. Pengertian Amanah (jual beli amanah) Secara bahasa, amanah artinya ithmi`nan (tenang) dan tidak takut. Terkadang kata amanah juga digunakan untuk menamakan wadi`ah (barang titipan). (Ibrahim Musthofa, dkk. al-Mu`jam al-Wasith, as-Syamilah, kata: أمن ). Secara istilah, jual beli amanah digunakan untuk menamakan transaksi yang menuntut kepercayaan bagi penjual, karena dia telah menyampaikan informasi kepada pembeli yang itu merupakan amanahnya. Karena itu, jual beli amanah adalah jual beli yang dibangun atas prinsip saling percaya dan amanah antara kedua belah pihak. (al-Mausu`ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 9/48) Sementara itu, kepercayaan dan amanah ini boleh jadi mengacu pada penjual atau pembeli, atau kedua-duanya. Misalnya, amanah dan kepercayaan yang mengacu pada penjual: Dalam sebuah kasus jual-beli, penjual menyampaikan bahwa harga kulakan barag ini sekian rupiah. Dalam kasus ini penjual dituntut untuk amanah ketika menyampaikan harga kulakan, sehingga bisa meyakinkan pembeli. Adapun contoh amanah dan kepercayaan yang mengacu pada pembeli, bisa dipelajari di pembahasan macam-macam jual beli amanah, bagian pertama: jual beli Wafa’. 2. Jual Beli Musawamah Kebalikan dari jual beli amanah adalah jual beli musawamah, yaitu jual beli dengan harga yang disepakati kedua belah pihak, tanpa melihat harga kulakan pembeli. Dalam transaksi ini pembeli bebas menawar harga barang yang akan dibelinya. Terjadinya jual beli ini sesuai dengan kesepakan kedua belah pihak. Inilah transaksi jual beli yang umumnya dilakukan di masyarakat. 3. Macam-macam Jual Beli Amanah Jual beli amanah ada enam macam (Al-Mausu`ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 9/48): Pertama, jual beli wafa’ (memenuhi janji) Jual beli wafa’ adalah jual beli dengan persyaratan bahwa jika penjual mengembalikan uangnya kepada pembeli maka pembeli harus mengembalikan barang yang dia beli. Disebut jual beli wafa’, karena pembeli harus memenuhi janjinya, berdasarkan persyaratan di awal transaksi. Sementara transaksi ini dimasukkan dalam jual beli amanah, karena barang dagangan yang telah dibeli, menjadi amanah bagi pembeli untuk dikembalikan ke penjual jika penjual mengembalikan uangnya. Dan pembeli tidak boleh menjual barang tersebut kepada orang lain, selain dikembalikan ke penjualnya. Karena itu, pada hakekatnya, dalam transaksi ini tidak ada keinginan jual beli di antara kedua belah pihak. Jika setelah transaksi, barang yang dibawa pembeli itu rusak atau hilang, namun bukan karena keteledoran pembeli maka masing-masing tidak punya tanggung jawab apapun. Karena pembeli telah menunaikan amanah kepada penjual. Sebaliknya, apabila penjual meninggal dunia sebelum dia serahkan uangnya maka tanggung jawab diserahkan kepada ahli warisnya. (Al-Mausu`ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 9/48) Contoh: A membeli rumah dari B dengan harga 1 M. Dengan syarat, jika B mengembalikan mampu mengembalikan uang 1 M kepada A maka rumahnya akan dikembalikan kepada B. Selama rumah ini ada di tangan A maka dia tidak diperbolehkan memindahkan kepemilikan rumah tersebut kepada orang lain dengan cara apapun, baik dijual, dihadiahkan, dihibahkan, diwakafkan, atau diwariskan. Karena hakekatnya, B tidak berniat menjual rumahnya, sebaliknya A dipaksa untuk tidak serius dalam membeli rumah tersebut. Sebagian ulama mazhab hanafi, menyebut jual beli ini dengan rahn (gadai), sehingga semua hukumnya sama dengan hukum gadai. Sementara Malikiyah menamakan jual beli ini dengan Bai` at-Tsnaya (jual beli Tsanaya) dan Syafi`iyah menyebut transaksi ini dengan Bai` al-`Ahdah (jual beli al-`Ahdah). Mengenai hukumnya, Malikiyah, Hambali, ulama Hanafiyah serta Syafi`iyah zaman dulu berpendapat bahwa jual beli wafa’ adalah jual beli yang fasid (tidak dianggap). Karena dalam jual beli ini ditiadakan konsekwensi transaksi jual beli, yaitu berpindahnya kepemilikan barang. Sementara ulama muta’akhirin di kalangan mazhab Hanafiyah dan Syafi`iyah berpendapat bolehnya jual beli wafa`. Karena hakekat jual beli ini adalah transaksi rahn (gadai). Kedua, jual beli Murabahah Murabahah diambil dari kata: Ribh, yang artinya untung. Secara istilah bai` Murabahah adalah menjual barang dengan harga kulakan ditambah keuntungan yang disepakati antara kedua belah pihak. Contoh: A membeli rumah dengan harga 1 M. Datang B mau membeli rumah tersebut. Si A memberi tahu harga dia membeli rumah (1 M) dan bersedia dijual kepada B, jika si B mau memberi keuntungan 10 jt. Setelah sepakat, keduanya bertransaksi. Para ulama menegaskan bolehnya transaksi murabahah. Namun ulama mazhab malikiyah berpendapat bahwa jual beli ini kurang afdhal. Yang lebih baik adalah tidak disebutkan harga kulakan dan untungnya. Transaksi murabahah dimasukkan dalam jual beli amanah, karena penjual menyampaikan harga beli (kulakan) barang tersebut. Sehingga penjual dituntut untuk amanah dalam memberikan informasi tentang harga belinya. Mengenai macam-macamnya, syaratnya, dan rincian hukumnya, akan dibahas tersendiri dalam tema: Murabahah. Ketiga, jual beli Tauliyah Tauliyah secara bahasa berasal dari kata: walla, yang artinya memberi wewenang. Tauliyah berarti memberi wewenang kepada orang lain untuk memiliki atau menggunakan suatu barang. Secara istilah, jual beli Tauliyah adalah seseorang menjual barang kepada orang lain dengan harga yang sama dengan harga belinya, dan penjual menyampaikan harga belinya kepada pembeli. Contoh: A membeli motor dengan harga 6 jt. A memberi tahu B bahwa dia membeli motor tersebut seharga 6 jt. Dia tawarkan motornya kepada B dengan harga yang sama, tanpa mengambil keuntungan sedikitpun. Transaksi ini dimasukkan dalam bai` amanah karena dalam transaksi ini, penjual menyampaikan harga belinya. Hal ini menuntut adanya amanah dari penjual tentang kebenaran informasi yang dia sampaikan. Mengenai hukum dan syarat selengkapnya, bisa dipelajari di pembahasan Tauliyah. Keempat, jual beli wadhi`ah Wadhi`ah secara bahasa artinya kerugian. Bisa juga digunakan untuk menamakan pajak yang diambil oleh pemerintah. Secara istilah, wadhi`ah berarti menjual barang dengan harga yang lebih rendah dari pada harga beli dan pembeli diberi tahu tentang harga belinya. Sehingga sistem jual beli ini merupakan kebalikan dari jual beli murabahah. Jual beli wadhi`ah sering juga dinamakan dengan jual beli muhathah, hathitah, mukhasarah, dan muwadha`ah. Contoh: A membeli motor seharga 10 jt. Dia memberi tahu B tentang hal ini. Dia tawarkan motornya kepada B dengan harga 8 jt. Sehingga A menanggung kerugian 2 jt. Kelima, jual beli mustarsal Mustarsal artinya dilepas. Sedangkan maksud jual beli mustarsal adalah seseorang penjual mengatakan kepada pembeli: Saya jual barang ini dengan harga pasar atau sebagaimana harga umumnya masyarakat atau dengan harga yang berlaku hari ini atau dengan harga sebagaimana yang akan ditentukan oleh si fulan, dst. Orang yang melakukan transaksi ini tidak mengetahui harga barang dan tidak bisa saling tawar menawar. Para ulama sepakat bahwa jual beli ini sah. Hanya saja mereka berselisih pendapat, apakah pembeli dan penjual memiliki hak khiyar ataukah tidak. Keenam, jual beli talji`ah Secara bahasa talji`ah diambil dari kata: ilja` yang artinya memaksa. Secara istilah, bantuk transaksi talji`ah hanya bisa digambarkan dengan contoh, sebagai berikut: Dalam sebuah kasus, A mendapat ancaman dari orang lain, bahwa dirinya akan dibunuh. Karena ketakutan, A melarikan diri dan menjual seluruh hartanya kepada B dengan penuh keterpaksaan. Dengan syarat, selama barang ini ada di tangan B maka B tidak boleh menjualnya atau memberikannya kepada orang lain, dan jika A bisa mengembalikan uangnya B (seharga barang yang dia beli) maka B wajib mengembalikan barangnya. (Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Dar at-Tsaqafah al-Islamiyah, jilid 3, hal. 101) Bahkan terkadang jual beli ini dilakukan tanpa harga yang ditetapkan, atau dengan harga yang sangat murah. Karena pada hakekatnya, penjual tidak ingin menjual barangnya. Sebagian ulama menegaskan tidak sahnya jual beli semacam ini. Ibnu Qudamah mengatakan: “Jual beli talji`ah bathil (tidak sah)”. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Dar al-Fikr, Beirut, 1405 H, jilid 4, hal. 300) 4. Hukum Khianat dalam Jual Beli Amanah Pada dasarnya jual beli ini dibangun atas prinsip saling percaya dan amanah. Hukum untuk kasus khianat pada jual beli amanah, dikembalikan kepada masing-masing kasus. Artinya hukumnya berbeda-beda sesuai dengan kasusnya. Pertama, khianat dalam transaksi murabahah dan tauliyah Bentuk khianat dalam transaksi murabahah atau tauliyah ada dua kemungkinan: a. Khianat dalam cara pembayaran. Misalnya A membeli motor secara kredit seharga 10 jt, kemudian dia memberi tahu B bahwa A membeli motor ini 10 jt, namun tidak kreditnya dia rahasiakan. Jika B mau beli maka harganya 11 jt tunai. Beberapa hari setelah transaksi B baru mengetahui bahwa motor itu kredit. Dalam kasus semacam ini, B memiliki hak untuk memilih berdasarkan kesepakatan ulama. Dia berhak untuk melanjutkan dan menghentikan transaksi. Karena transaksi murabahah dibangun atas prinsip amanah. Pembeli telah menaruh kepercayaan kepada penjual tentang informasi harga yang dia berikan. Sehingga jika syarat amanah dalam jual beli ini tidak terpenuhi maka ada hak khiyar. b. Khianat dalam informasi harga Misalnya A membeli HP seharga 500 rb. Kemudian dia memberi tahu B bahwa dia beli HP tersebut 700 rb. Si B boleh membeli HP ini jika dia membayar 700 rb, dengan harapan agar B beranggapan bahwa A tidak mengambil untung Hpnya. Setelah beberapa hari, B baru sadar bahwa aslinya dia membeli HP tersebut 500 rb bukan 700 rb. Dalam kasus semacam ini, ulama berbeda pendapat dalam hukumnya: 1. Syafi`iyah, Hambali, dan Imam Abu Yusuf berpendapat bahwa pembeli tidak memiliki hak khiyar. Namun dia mengambil jatah karena khianat. 2. Abu Hanifah mengatakan: bahwa pembeli memiliki hak khiyar. Dia boleh mengambil seluruh uang yang dia bayarkan (membatalkan transaksi). Namun untuk jual beli tauliyah, tidak ada hak khiyar untuk pembeli. Dia boleh mengurangi harga barang sebatas khianatnya dan dia beli dengan harga sisanya. 3. Muhammad bin Hasan dan pendapat lain dalam mazhab Syafi`iyah, bahwa jika terjadi khianat dalam informasi harga, pembeli memiliki hak khiyar untuk transaksi murabahah maupun tauliyah. Kedua, khianat dalam transaksi mustarsal Bentuknya, misalnya sesuai perjanjian untuk dijual sesuai harga pasar, ternyata dia dibohongi dengan harga yang lebih tinggi dari umumnya masyarakat maka pembeli memiliki hak khiyar. Rujukan: * Al-Mu`jam al-Wasith, Ibrahim Musthofa, dkk., As-Syamilah. * Al-Mausu`ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, Kuwait, 1427. * Fiqh Sunnah, Sayid sabiq, Dar at-Tsaqafah al-Islamiyah. * Al-Mughni, Ibnu Qudamah, Dar al-Fikr, Beirut, 1405 H

Iman kepada Allah

Iman kepada Allah mengandung empat unsur (Syarah Ushul Iman, hlm. 13–22): Pertama: Mengimani Wujud Allah ta’ala. Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah manusia, akal manusia, syariat, dan indra manusia. * Bukti fitrah tentang wujud Allah. Secara fitrah, manusia telah mengakui adanya pencipta, pengatur, dan pemilik alam semesta ini. Tidak ada orang yang mengingkari hal ini selain orang ateis yang sombong. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Ibu-bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari, no. 1292) * Bukti akal. Bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Mereka tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri, dan tidak pula tercipta secara kebetulan. Allah ta’ala menyebutkan dalil akal tentang keberadaan Sang Pencipta dalam surat Ath-Thur, yang artinya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur:35) Ketika Jubair bin Muth’im mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, maka dia–yang tatkala itu masih musyrik–berkata, “Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.” (HR. Al-Bukhari, no. 4573) * Bukti syariat. Bukti syariat tentang wujud Allah sangat banyak. Semua ayat Alquran yang berbicara tentang Allah dan segala sifat-Nya menunjukkan keberadaan Allah ta’ala. * Bukti indrawi. Bukti indrawi tentang wujud Allah ta’ala dapat dibagi menjadi dua: * Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa, serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah ta’ala. * Mukjizat para nabi dan rasul, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang. Ini merupakan bukti yang jelas tentang wujud Dzat yang memelihara para nabi tersebut, yaitu Allah ta’ala. Karena hal itu terjadi di luar kemampuan manusia, Allah melakukannya sebagai penguat dan penolong bagi para rasul. Kedua: Mengimani rububiyah Allah ta’ala Mengimani rububiyah Allah ta’ala maksudnya ‘mengimani sepenuhnya bahwa Dialah satu-satunya Rab, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya’. “Rab” adalah ‘Dzat yang menciptakan, memiliki, serta mengatur semesta alam’. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada yang bisa mengatur alam semesta, menghidupkan, serta mematikan, selain Allah ta’ala. Allah berfirman, yang artinya, “Ingatlah, menciptakan dan mengatur hanya milik Allah. Mahasuci Allah ….” (QS. Al-A’raf:54) Tidak ada makhluk yang mengingkari ke-rububiyah-an Allah ta’ala, kecuali orang yang sombong. Pada hakikatnya pula, dia sendiri tidak meyakini kebenaran ucapannya. Bahkan, pada diri Fir’aun sekali pun, meskipun dia mengaku tuhan, namun hatinya yakin bahwa yang benar adalah dakwah Musa, yang mengajak untuk mengesakan Allah. Allah ta’ala berfirman menceritakan keadaan batin Fir’aun dan pengikutnya ketika mendengar dakwah Musa dan Harun, yang artinya, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka. Padahal, hati mereka meyakini (kebenaran) dakwah Musa.” (QS. An-Naml:14) Demikian juga, perkataan Musa kepada Fir’aun, yang Allah sebutkan dalam Alquran, yang artinya, “Sesungguhnya, kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rab yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata, dan sesungguhnya aku menganggap kamu, wahai Fir’aun, seseorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’:102) Oleh karena itu, sebenarnya, orang-orang musyrik Quraisy juga mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan). Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka, apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Empunya langit yang tujuh dan Empunya ‘arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka, apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS. Al-Mu’minun:84–89) Ketiga: Mengimani uluhiyah Allah ta’ala. Artinya, mengimani dan mengamalkan konsekuensi bahwa Dialah satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia; yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah:163) Allah juga berfirman, yang artinya, “Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia; yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia; yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Ali Imran:18) Dakwah para rasul mengajak kaumnya untuk hanya beribadah kepada Allah. Allah berfirman menceritakan ajakan mereka, yang artinya, “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian! Sekali-kali, tidak ada Tuhan selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Al-Mu’minun:32) Meski demikian, orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil tuhan (sesembahan) selain Allah ta’ala. Mereka menyembah serta meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu. Itulah bentuk menyekutukan Allah. Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti: * Tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberi kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak menguasai kehidupan dan kematian, tidak memiliki sedikit pun kekuasaan di langit, serta tidak pula ikut memiliki keseluruhannya. Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun. Bahkan, mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatan pun, dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan, tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al-Furqan:3) Allah juga berfirman, yang artinya, “Katakanlah, ‘Panggil mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, serta sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya untuk memperoleh syafaat.” (QS. Saba’:22–23) * Sebenarnya, orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya Rab, Pencipta, yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan adanya pengesaan uluhiyah (penghambaan) Allah, sebagaimana mereka mengesakan rububiyah (ketuhanan) Allah. Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai manusia, sembahlah Rabmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan hujan itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:21–22) Keempat: Mengimani nama dan sifat Allah ta’ala. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala adalah dengan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam Alquran atau sunah Rasul-Nya, sesuai dengan kebesaran-Nya, tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan kaifiyahnya), dan tamtsil (penyerupaan). Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah mempunyai asma`ul husna (nama-nama yang indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asma`ul husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak, mereka akan mendapat balasan terhadap perbuatan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf:180) Dia juga berfirman, yang artinya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura:11). Kelompok sesat terkait nama dan sifat Allah Terkait dengan iman terhadap nama dan sifat Allah, ada dua golongan yang tersesat, yaitu: Pertama: Golongan Mu’aththilah. Yaitu golongan yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, atau mengingkari sebagian nama dan sifat Allah, misalnya: menganggap bahwa Allah tidak memiliki wajah, Allah tidak memiliki tangan, dan sebagainya. Padahal, Allah telah menyebutkan dalam Alquran dan hadis bahwa Dia memiliki tangan, wajah, dan kaki yang berbeda dengan makhluknya, sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah. Menurut anggapan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni penyerupaan Allah ta’ala dengan makhluk-Nya. Pendapat ini jelas keliru karena: 1. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang batil atau salah, karena Allah ta’ala telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat untuk diri-Nya, serta telah menafikan segala sesuatu yang serupa dengan-Nya. Andaikata penetapan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam firman Allah. 2. Kesamaan dalam nama atau sifat tidak menunjukkan adanya persamaan secara hakikat. Anda melihat ada dua orang yang keduanya adalah manusia yang mendengar, melihat, dan berbicara, tetapi sifat kemanusiaan, pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan mereka tidaklah sama. Apabila di antara makhluk-makhluk yang serupa dalam nama atau sifatnya saja jelas ada perbedaan hakikat, maka tentu perbedaan antara Khalik (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebih jelas lagi. Kedua: Golongan Musyabbihah. Yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah, lalu mereka menyamakannya dengan sifat makhluk-Nya. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nas-nas Alquran, karena Allah berbicara dengan hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahaminya. Anggapan ini jelas keliru, ditinjau dari beberapa hal berikut: 1. Menyerupakan Allah ta’ala dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang batil, menurut akal maupun syariat. Padahal, tidak mungkin jika nas-nas kitab suci Alquran dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan pengertian yang batil. 2. Allah ta’ala berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Akan tetapi, hakikat makna informasi tentang Dzat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah. Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar. Kata “mendengar” sudah diketahui dari sisi maknanya, yaitu ‘menangkap suara’, tetapi hakikat pendengaran Allah hanya diketahui oleh-Nya. Contoh lain: Allah ta’ala memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya. Kata “istiwa’”, dari sisi asal maknanya, adalah satu hal yang sudah dipahami, yaitu ‘berada di atas sesuatu’, tetapi hakikat keberadaan Allah tidak diketahui oleh siapa pun kecuali oleh Dia sendiri. Buah iman kepada Allah 1. Mengesakan Allah ta’ala, sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya. 2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi. 3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. 4. Semakin mengagungkan Allah. Referensi: * Al-Jami’ Ash-Shahih Al-Mukhtashar. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dar Ibnu Katsir. Beirut, 1407 H. * Syarah Ushul Iman. Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Dar Al-Qasim. Arab Saudi. 1419 H.

4 Mutiara Manusia

Berdasarkan hadis Rasulullah SAW : Empat macam mutiara manusia yang dapat hilang karena empat perkara lainnya (1) Akal dihilangkan oleh marah, (2) Agama dihilangkan oleh hasad(dengki), (3) Malu dihilangkan oleh tamak, (4) Amal sholeh dihilangkan oleh menggunjing. 1. Akal dilangkan karena marah Akal merupakan salah satu hidayah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan akal kedudukan manusia paling tinggi dan utama dibandingkan makhluq Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, dapat membedakan yang membahayakan dan yang aman, Oleh karena pentingnya manusia menggunakan akalnya, dalam Al Qur’an sebanyak 13 kali Allah menegur manusia yang berpaling atas kekuasaan Allah dan tidak menggunakan akalnya dengan kalimat Afala Ta’qilun ( افلا تعقلون ). Hadis Rasulullah SAW menyatakan; “Bukanlah orang kuat karena menang bertarung, tapi orang kuat ialah yang mampu menahan amarahnya” 2.Agama hilang karena hasud dan sejenisnya. Dalam AlQur’an telah diperingatkan oleh Allah:” Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian orang lain lebih banyak dari sebagian yang lain”( Annisa 32) Hadis Rasulullah SAW memperingatkan: Hasud itu memakan/menghilangkan kebaikan sebagimana api membakar kayu yang kering”(HR. Ibnu Majah) 3.Malu hilang karena sifat tamak( Tamak’) Dengan sifat Thoma’ seseorang tidak akan malu melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum agama dan negara, sosial kemasyarakatan dan keagamaan dan etika. Hadis Nabi menyatakan : Al Haya’u minal Iman” (malu itu sebagian dari iman) Hadis lain menyatakan” Al Haya’u la ya’ti illa bi khair’( Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan) Maksudnya malu itu pasti mendatangkan kebaikan bagi seseorang. Hadis lain menyatakan: “Sekiranya malu itu ada pada seseorang, pasti dia adalah orang yang sholeh. Sebaliknya bila sifat malu itu tidak ada pada seseorang dia termasuk orang tidak baik. 4.Amal shaleh akan terhapus oleh gunjingan. Menggunjing adalah salah satu sifat jelek manusia dan dapat menimbulkan permusuhan. dan menghilangkan amal soleh. Menggunjing(ghibah) adalah menyebutkan seseuatu yang ada pada seseorang, yang membuatnya tidak senang atau marah. “Zikruka akhaaka bima yakrahu” Sesuatu yang diceritakan itu benar-benar terjadi atau tidak terjadi sama sekali keduanya termasuk menggunjing. Sifat menggunjing termasuk sifat yang dapat menimbulkan bahaya dan dampak yang bahaya, Allah telah memperingatkan dalam surah Al Hujurat ayat 12” “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” Demikianlah tentang 4 Mutiara manusia yang perlu dijaga agar terpelihara.

Bersatulah dengan Menyambungkan Sanad Ilmu

Permasalahan besar dalam dunia Islam adalah penyalahgunaan istilah syiah dan salaf Syiah artinya pengikut, permasalahannya adalah pengikut yang sholeh atau pengikut yang tidak sholeh. Salaf artinya orang terdahulu, permasalahannya adalah orang terdahulu ada yang sholeh dan ada yang tidak sholeh. Penyalahgunaan istilah syiah atupun salaf adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi untuk menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim. Inti hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi adalah bahwa pintu ijtihad masih terbuka luas tanpa mempertimbangkan kompetensi untuk melakukan ijtihad. Begitupula bahan untuk melakukan ijtihad tidaklah cukup, contohnya hadits yang telah dibukukan hanyalah sebagian dari hadits-hadits yang ada. Syiah Contohnya mazhab Zaidiyyah, pada awalnya dicetuskan oleh Imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Namun mereka yang mengaku-aku sebagai Syiah Zaidiyah pada masa kini pada hakikatnya tidak lagi murni mengikuti mazhab Zaidiyyah. Salah satu ulama Zaidiyyah, Imam Ahmad as-Syarafiy (w. 1055 H) menegaskan bahwa: "Syi’ah Zaidiyah terpecah kepada tiga golongan, yaitu: Batriyah, Jaririyah, dan Garudiyah. Dan konon ada yang membagi sekte Zaidiyah kepada: Shalihiyah, Sulaimaniyah dan Jarudiyah. Dan pandangan Shalihiyah pada dasarnya sama dengan pandangan Batriyyah. Dan sekte Sulaymaniyah sebenarnya adalah Jarririyah. Jadi ketiga sekte tersebut merupakan golongan-golongan Syi’ah Zaidiyyah pada era awal. Ketiga sekte inipun tidak berafiliasi kepada keturunan Ahlu Bait sama sekali. Mereka hanyalah sekedar penyokong berat imam Zaid ketika terjadi revolusi melawan Bani Umayah, dan mereka ikut berperang bersama imam Zaid". Menurut pendapat Dr. Samira Mukhtar al-Laitsi dalam bukunya (Jihad as-Syi’ah), ketiga sekte tersebut merupakan golongan Syi'ah Zaidiyyah di masa pemerintahan Abbasiah. Dan mayoritas dari mereka ikut serta dalam revolusi imam Zaid. Dan ketiga sekte tersebut dianggap paling progresif dan popular serta berkembang pesat pada masa itu. Dan setelah abad kedua, gerakan Syi'ah Zaidiyah yang nampak di permukaan hanyalah sekte Garudiyah. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya pandangan-pandangan yang dinisbahkan kepada sekte Syi'ah Zaidiyah lainnya. Pada hakikatnya mereka tidak lagi mengikuti pendiri mazhab Zaidiyyah, mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri. Salaf Kalau kita telusuri istilah manhaj salaf atau mazhab salaf maka kita menemukan istilah itu dikatakan oleh ulama Al Albani, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab ataupun ulama Ibnu Taimiyyah. Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) kepada Salafush Sholeh tidak pernah menguraikan tentang manhaj salaf atau mazhab salaf dalam kitab-kitab mereka. Andaikan manhaj salaf yang dimaksud adalah manhaj atau jalan / cara beribadah Salafush Sholeh maka Imam Mazhab yang empat yang melihat langsung jalan / cara beribadah Salafush Sholeh dan menuliskannya pada kitab fiqih agar kaum muslim di kemudian hari dapat “melihat” cara beribadah Salafush Sholeh melalui kitab mereka. Kita, kaum muslim harus bersatu kepada pemahaman dan pengamalan agama yang haq yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan menelusuri kembali melalui dua jalur utama yakni 1. Jalur ulama yang sholeh, bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 2. Jalur ulama yang sholeh, bernasab atau bersilsilah keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua terdahulu tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Kebenaran adalah apa yang diwahyukanNya dan disampaikan oleh lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Telusurilah terus hingga yakin bahwa yang diterima adalah benar dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan akal pikiran manusia yang didalamnya ada unsur hawa nafsu dan kepentingan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad) Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani) Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 ) Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi) Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”. Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga” Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203 Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“ Tujuan beragama adalah untuk menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad) Agama adalah jalan untuk meneladani akhlak manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21) “Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4) Jadi kalau ada seseorang dikenal telah mendalami ilmu agama namun tidak berakhlak baik maka bisa dipastikan ilmu agama yang dipahaminya telah keliru, tidak disesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketidak sesuaian dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena mereka mendapatkan ilmu dari ulama yang tidak bersanad ilmu atau bersanad guru tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendapatkan ilmu bersandarkan akal pikiran atau prasangka manusia semata. Marilah kita menegakkan ukhuwah Islamiyah dengan mengakhiri perselisihan karena perbedaan pemahaman. Bersatulah dengan menyambungkan sanad ilmu hingga tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Cara menyambung sanad ilmu melalui dua jalur 1. Melalui sanad guru, mengikuti ulama yang bermazhab yang tersambung kepada Imam Mazhab yang empat. Contohnya tersambung kepada sanad gurunya Imam Syafi'i ra Sanad guru Imam Syafi’i ra a. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam b. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra c. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra d. Al-Imam Malik bin Anas ra e. Al-Imam Syafi’i Muhammad bin Idris ra 2. Melalui ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Ikuti apa yang disampaikan oleh Al Imam Al Haddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy’syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almugoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi Syaikhutthorigoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilalloh Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya Sejak abad 7 H di Hadramaut (Yaman), dengan keluasan ilmu, akhlak yang lembut, dan keberanian Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain ra beliau berhasil mengajak para pengikut Khawarij untuk menganut madzhab Syafi’i dalam fiqih dan Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam akidah. Tidak sedikit dari kaum Khawarij yang dulunya bersifat brutal, akhirnya menyatakan taubat di hadapan beliau. Dan sebelum abad 7 H berakhir, madzhab Khawarij telah terhapus secara menyeluruh dari Hadramaut, dan Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah diterima oleh seluruh penduduknya. Di Hadramaut kini, akidah dan madzhab Imam Al Muhajir yang adalah Sunni Syafi’i, terus berkembang sampai sekarang, dan Hadramaut menjadi kiblat kaum sunni yang “ideal” terutama bagi kaum Alawiyin, karena kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya. Ini dapat dilihat bagaimana amalan mereka dalam bidang ibadah, yang tetap berpegang pada madzhab Syafi’i, seperti pengaruh yang telah mereka tinggalkan di Nusantara ini. Dalam bidang Tasawuf, meskipun ada nuansa Ghazali, namun di Hadramaut menemukan bentuknya yang khas, yaitu Tasawuf sunni salaf Alawiyin yang sejati Dari Hadramaut (Yaman), anak cucu Imam Al Muhajir menjadi pelopor dakwah Islam sampai ke “ufuk Timur”, seperti di daratan India, kepulauan Melayu dan Indonesia. Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia , dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah penduduk Yaman (yang datang pada abad ke – 16 dari Hadramaut dan juga ada yang melalui Gujarat), dari keluarga Al Hamid, As Saggaf , Al Habsy dan As Syathiry, Assegaf dan lain lain (masih banyak lagi para keluarga dzurriyat baginda Nabi saw, yang sampai kini masih terus berdakwah membimbing ummat di bumi Indonesia seperti: Al Aydrus, Al Attas, Al Muhdhor, Al Haddad, Al Jufri, Al Basyaiban, Al Baharun, Al Jamalullail, Al Bin Syihab, Al Hadi, Al Banahsan, Al Bin Syaikh Abu Bakar, Al Haddar, Al Bin Jindan, Al Musawa, Al Maulachila, Al Mauladdawilah, Al Bin Yahya, Al Hinduan, Al Aidid (–bukan Aidit–), Al Ba’bud, Al Qadri, Al Bin Syahab, dan lain lain) termasuk juga para Wali Songo, yang menyebar ke pedalaman – pedalaman Papua , Sulawesi, Pulau Jawa , mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan. Juga ada yang ke daerah Afrika seperti Ethopia, sampai kepulauan Madagaskar. Dalam berdakwah, mereka tidak pernah bergeser dari asas keyakinannya yang berdasar Al Qur’an, As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Selasa, 27 Maret 2012

KEUTAMAAN DZIKIR DAN SHALAWAT

Firman Allah Swt: “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat(pula) kepadamu(dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar(pada nikmat-Ku. (QS. Al-Baqarah:152) Firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah yang banyak kepada Allah(dengan menyebut nama-Nya).(QS. Al-Ahzaab: 42) Firman Allah Swt: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung.(QS. Al-Ahzaab: 35) Firman Allah Swt: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksa-Nya), tidak mengeraskan suara, dipagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.(QS. Al-A’raf: 205) Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati”. (H.R. Bukhari) Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik darimu dari infaq emas dan perak, dan lebih baik bagimu dari pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah !”. Beliau bersabda ” Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.” (Shahih Tirmidzi dan Ibnu Majah). Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi ; “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya(memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, Aku menyebut namanya dalam diriku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal(dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia dating kepada-Ku dengan berjalan(biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat(lari). (H.R. Bukhari dan Muslim) Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Sungguh, manusia yang paling utama di sisiku kelak di hari kiyamat, yaitu mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Janganlah kau buat hari raya rumahku ini(ramai-ramai di dalamnya), dan jangan pula kau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan(sepi), bershalawatlah kepadaku dimanapun kalian berada, karena shalawatmu itu pasti akan sampai kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :Jibril datang kepadaku dan berkata;” Ya Muhammad tiadak seorang yang bershalawat atasmu, kecuali 70.000 Malaikat bershalawat kepadanya, dan siapa di shalawati Malaikat sekian banyak ini adalah tergolong orang ahli sorga”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : Tiadak do’a kecuali terdapat hijab diantaranya dengan diantara langit, hingga bershalawat atas Nabi Saw, maka apabila di bacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan di terimalah do’a tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah do’a itu kepada pemohonnya’. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : ”Siapa bershalawat kepadaku penuh hormat mengagungkan aku, maka shalatnya bakal menjelma menjadi seorang malaikat bersayap dua, satu di kutub timur dan yang kedua di kutub barat, kedua kakainya dibawah bumi ke tujuh, lehernya melekat ke ‘Arasy, dan Allah berfirman kepadanya;”Hai Malaikat, bershalawatlah untuk hambaku ini, sebagaimana ia telah bershalawat kepada Nabi-Ku Muhammad Saw, maka malaikat itupun melaksanakan tugasnya, bershalawat kepadanya hingga hari kiamat”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :Sejumlah malaikat datang kepadaku,ya’ni Jibril, Israfil, ‘Izra’il dan Mika’il As. Lalu Jibril berkata; “Ya Rasulullah siapa yang bershalawat kepadamu 10 kali, maka akulah yang bertindak dengan tangannya dan aku lintaskan di atas shirat”. Dan Mika’il berkata;” Akulah yang memberikan minum dari telagamu”. Israfil berkata;”Aku bersujud kepada Allah, tidak akan mengangkat kepala hingga Allah mengampuni dosanya”. Izra’il berkata;”Aku cabut ruhnya seperti mencabut ruh-ruh para Nabi As”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Tiadak suatu kaum yang berhimpun di suatu tempat yang tidak bershalawat Nabi, kecuali kecelakaan menimpa mereka, seandainya masuk sorga pasti tidak bakal tahu pahala mereka”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :Siapa bershalawat 10 kali kepadaku di waktu pagi dan 10 kali di waktu petang, maka Alllah akan menyelamatkannya dari goncangan besar yang mengejutkan kelak di hari kiamat, dan ia di himpun berikut para Nabi dan Shiddiqin yang telah diberi ni’mat oleh Allah Swt”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Ketika orang mu’min bershalawat atasku, maka malakal maut menggegamnya dengan izin Allah, ia menyampaikannya ke makamku, katanya;”Ya Muhammad, bahwasannya si anu bin anu umatmu telah bershalawat atasmu”. Maka akupun berkata “Katakanlah kepadanya, dariku sepuluh shalawat dan sampaikan pula padanya syafaatnya wajib bagimu”. Kemudian Malakal Maut itu naik ke Arasy, ia berkata:” Ya Tuhan, bahwasannya si anu bin anu telah bershalawat atas kekasihMu(Nabi Muhammad) satu kali”. Lalu di jawab “Sampaikanlah padanya dari-Ku sepuluh shalawat. Kemudian setiap huruf shalawat di jadikan malaikat 360 kepala, setiap kepala 360 wajah, setiap wajah 360 mulut, setiap mulut360 lidah yang semuanya berbicara memuji kepada Allah Swt. Dengan menggunakan 360 macam bahasa, yang pahala semua itu di peruntukan orang mu’min yang bershalawat atas Nabi Saw. Hingga hari kiamat”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Siapa bershalawat kepadaku pada hari jum’at 100x, maka ia dataing kelak di hari kiamat dei barengi nur/cahaya, apabila nur tersebut di buat menyinari semua makhluk,pasti memadai”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Jibril baru saja keluar dari tempatku tadi, ia khabarkan kepadaku dari Tuhan ‘Azza wa Jalla, Dia berfirman; “Siapa dari orang islam yang bershalawat kepadamu satu kali, maka Aku dan para malaikatKu bershalawat atasnya 10 kali”. Oleh sebab itu bershalawatlah kepadaku sebanyaknya pada hari jum’at sebagai penghormatan atasku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Perhatikan, aku akan mengungkap tentang manusia yang paling kikir dan paling lemah, yaitu orang yang namaku disebut disisinya, tidak mau bershalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :“Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah memberikan shalawat kepadanya 10x, dan siapa bershalawat kepadaku 10x, maka Allah berikan shalawat kepadanya 100x, dan siapa yang bershalawat kepadaku 100x, maka Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari kemunafikan dan kebebasan dari api neraka dan Allah akan menempatkannya dihari kiamat beserta para syuhada, Maka perbanyaklah shalawat kepadaku ketika disebutkan namaku, karena akan menjadi kafarat dari keburukan-keburukanmu”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah memberikan shalawat kepadanya 10x, dan siapa bershalawat kepadaku 10x, maka Allah berikan shalawat kepadanya 100x, dan siapa yang bershalawat kepadaku 100x, maka Allah berikan shalawat kepadanya 1000x, , dan siapa yang bershalawat kepadaku 1000x, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk kedalam neraka”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali dari ummatku dengan hati yang tulus, maka Allah bershalawat kepadanya 10 shalawat, mengangkat 10 derajat, di tuliskan padanya 10 kebaikan dan di hapuskan 10 keburukan”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku 1000x dalam sehari, maka tidak akan mati sebelum melihat tempatnya di dalam surga”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat setiap hari 100x kepadaku, maka Allah akan kabulkan 100 hajatnya, seringan-ringannya hajat adalah di bebaskannya dari api neraka”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku 500x setiap hari, maka dia tidak akan fakir sepanjang hidupnya, maksudnya tidak memerlukan bantuan orang lain selamanya”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Jibril berkata; “Ya Muhammad, Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman ” Siapa yang bershalawat kepadamu 10x, maka pasti dia aman dari murka-Ku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari jum’at, karena malaikat Jibril barusan datang kepadaku dari Tuhannya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman;”Tiadak seorang muslim yang membaca sholawat satu kali di atas permukaan bumi ini, kecuali Aku dan para malaikat-Ku bershalawat kepadanya sepuluh kali”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari jum’at, karena shalawat ummatku akan diperlihatkan kepadaku setiap hari jum’at, siapa yang lebih banyak bershalawat kepadaku, maka dialah yang paling dekat kedudukannya denganku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam jum’at, siapa yang membacanya, maka aku akan menjadi saksi dan memberikan syafaat kepadanya di hari kiamat”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku 100x pada hari jum’at, maka diampuni kesalahannya 80 tahun”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang bershalawat kepadaku 1000x pada hari jum’at, maka tidak akan mati sebelum melihat tempatnya di dalam surga”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : ” Siapa yang bershalawat kepadaku pada hari jum’at, maka dia akan menjadi syafaat baginya pada hari kiamat”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang shalat ashar pada hari jum’at dan membaca(shalawat) sebelum melaksanakannya” Allaahumma sholli ‘ala Muhammadin Nabiyyil ummiyyi, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim tasliiman” 80x. Maka di ampuninya dosa 80 tahun dan di tuliskannya sebagai ibadah 80 tahun”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Bershalawat kepadaku akan menjadikan cahaya pada hari kiamat ketika gelapnya ash-Ahirath,oleh sebab itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa senang ingin bertemu dengan Allah Swt dan Dia ridlo kepadanya, maka perbanyaklah shalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang merasa sulit hajatnya, hendaklah memperbanyak shalawat kepadaku, karena dengan bershalawat akan menghilangkan kegelisahan, kesedihan hati, kesusahan, memperbanyak rizki dan di penuhi segala hajat (kebutuhan)”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang merasa sulit segala sesuatunya, hendaklah memperbanyak shalawat kepadaku, karena dengan bershalawat akan melepaskan semua belenggu(ikatan) dan menghilangkan kesusahan”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Sebanyak-banyaknya istri kalian di dalam surga adalah sebanyak-banyaknya kalian membaca shalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Seutama-utamanya manusia denganku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih banyak bershalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Tiga (perkara) yang akan mendapat naungan ‘Arasy Allah pada hari kiamat, di hari yang tiadak naungan kecuali naungan-Nya”. Di katakana kepadanya; “Siapa Ya Rasulallah?..”, Beliau bersabda;”Orang yang memberikan jalan keluar dari kesusahan ummatku, Yang menghidupkan sunnahku dan Yang memperbanyak bershalawat kepadaku”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Tidaklah suatu kaum duduk di suatu tempat, lalu sesudahnya tidak bershalawat kepadaku, kecuali perpisahan mereka sangatlah busuk melebihi busuknya bangkai”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa meninggalkan shalawat kepadaku, berarti mereka telah lupa/menyimpang dari jalan sorga”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Do’a dan shalat bergantungan di antara langit dan bumi, tidak sampai kepada Allah Swt, sehingga di bacakan shalawat atas Nabi Saw”. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Bahwasanya diantara umatku ada kaum-kaum yang de seru oleh Allah kelak di hari kiamat: “Hai sekalian hamba-hamba-Ku, masuklah ke sorga”, lalu mereka pun terlantar di padang terbuka(di hari kiamat) dari petunjuk Allah ke sorga. Dan ketika di Tanya, siapakah mereka itu ya Rasul? Jawabnya:”Yaitu orang-orang yang enggan bershalawat kepadaku akibat lupa dan lengah sewaktu namaku di sebut-sebut di hadapan mereka”. Inilah kiranya hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Yang berkenaan tentang keutamaan bershalawat. Hadits-hadits ini saya ambil dari kitab “Afdlolu al-Shalawaat ‘alaa Sayyidi al-Saadaat” karangan Asyaikh Yusuf bin Isma’il al-Nabhaani dan tukilan dari kitab “Durrotu al-Naashihiin” karangan Syaikh ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad al-Syaakir al-Khaubawi. Mungkin dalam hati kecil Anda tersisa pertanyaan yang menyala-nyala “Apakah wajib hukumnya membaca shalawat kepada Nabi Saw?… Saya jawab “Membaca shalawat Nabi Saw, hukumnya adalah wajib secara jumlah, merujuk pada firman Allah Swt dalam surat al-Ahzaab ayat 56 “Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa” Yang artinya ; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam kepadanya sesempurnanya”. Dalam ayat tersebut ada kata “shalluu” yang artinya bershalawatlah. Kata “shalluu” adalah “fi’il amar” atau fi’il yang menunjukan arti perintah, setiap perintah berarti wajib hukumnya untuk di ta’ati, lebih-lebih ini adalah perintah Allah Swt. Bukankah Anda lihat bahwa shalawat adalah termasuk rukun dari rukun-rukun shalat, berarti membacakan shalawat di dalamnya adalah hukumnya wajib, jika tidak, maka shalatnya tidak akan diterima oleh Allah Swt. Ada pula yang menjelaskan bahwa seseorang wajib bershalawat kepada Nabi Saw. Ketika nama Beliau di sebut-sebut di sisinya, menunjuk pada sabda Nabi Saw. : “Sungguh, rendah dan hina lagi kecewa, orang yang di sebut-sebut namaku disisinya, ia tidak mau bershalawat kepadaku, masuklah ia ke neraka dan di jauhkan dari rahmat Allah”. Apa fungsi bershalawat kepada nabi, sedangkan Allah dan para malaika-Nya sudah menyampaikannya?… Bukankah beliau adalah manusia paripurna, sudah di jamin keselamatannya, sudah di ampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang?… Tidakkah shalawat kita hanyalah sepercik sinar lilin di hadapan matahari?… Al-Imam Fakhru al-Roozi membantu menjawabnya, ” Shalawat kepada Nabi itu bukan karena beliau membutuhkannya, bahkan shalawat para malaikat pun tidak beliau butuhkan setelah ada shalawat dari Allah kepadanya. Namun semua itu demi menunjukkan kebesaran dan ke agungan Nabi Saw., sebagaimana Allah mewajibkan kita berdzikir menyebut Nama-Nya, padahal pasti Dia tidak membutuhkan semua itu. Senada dengan Al-Imam Fakhru al-Roozi, Ibnu Qoyyim lalu menambahkan, ” Jika Allah dan para malaikat-Nya saja bershalawat kepada Nabi, kalian juga harus bershalawat kepadanya. Kalian lebih berhak memanjatkan shalawat dan salam kepadanya, karena kalian telah mendapatkan berkah risalah yang di embannya dan telah di beri kabar gembira oleh makhluk yang paling mulia di dunia dan di akhirat ini. Dengan kata lain shalawat kita juga merupakan bentuk syukur atas segala jasa Nabi yang telah menuntun kita ke jalan kebenaran serta menyebut-nyebut keistimewaan dan jasa beliau untuk di jadikan panutan dalam kehidupan. Bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, adalah ibarat kunci pembuka kemurahan hati Allah Swt. Dari Abu Hurairah r.a. Nabi Saw. Bersabda:“ : “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”.(HR.Muslim). Ibnu Atha’illah berpeasan, “Seandainya seumur hidup engkau melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah memberimu satu shalawat saja, tentu satu shalawat itu lebih berat daripada semua amal ketaatanmu selama hidup. Sebab engkau bershalawat sesuai dengan kapasitas kemampuanmu, sementara Allah bershalawat sesuai dengan Rububiyyah (sifat ketuhanan)-Nya. Ini baru satu shalawat. Lalu, bagaimana jika Allah bershalawat untukmu sebanyak sepuluh kali atas setiap bershalawat satu kali atas Rasul Saw.!… Ketika kita sampaikan terima kasih kita ats Nabi melalui bershalawat kepadanya, jutaan malaikat ganti mendoakan kita. Shalawat kita itu seakan menjadi sepercik sinar lilin yang kemudian di pantulkan kembali menjadi cahaya matahari!.. Suatu hari Rasulullah Saw. datang dengan wajah berseri-seri dan bersabda:“Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata,” Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan ku imbangi dengan sepuluh do’a baginya dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.’” (HR. An-Nasa’i). Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda ,”Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendo’akan keselamatan yang sama baginya, untuk itu bershalawatlah, baik sedikit ataupun banyak.” (HR.Ibnu Majah dan Thabrani). Tentu saja butuh tulisan banyak bila bila saya camtumkan tentang keutamaan bershalawat di blog ini. Cukuplah saya pilihkan sebuah alasan ringan sebagai hasil ringkasan dari berbagi riwayat pillihan. Menurut Ahmad bin ‘Ujaibah dalam Haqaa’iqul-Anwar, setidaknya ada 41 keutamaan dan keuntungan dari bershalawat kepada Nabi Saw. 1. Menaati perintah Allah untuk bershalawat. 2. Meneladani Allah dalam bershalawat. 3. Meneladani para malaikat Allah dalam bershalawat. 4. Memperoleh sepuluh shalawat dari Allah untuk satu kali bershalawat pada Nabi Saw. 5. Meninggikan sepuluh derajat. 6. Mendapatkan sepuluh kebaikan. 7. Menghaspus sepuluh keburukan. 8. Memudahkan terkabulnya do’a. 9. menjadi jaminan syafaat Nabi Saw. 10. Menjadi factor diampuninya dosa dan di tutupnya aib. 11. Menjadi sebab tercukupinya kepentingan hamba. 12. Menjadi perekat kedekatan kepada Nabi Saw. 13. Mengantarkan kepada maqam kejujuran. 14. Membantu pemenuhan kebutuhan. 15. Menjadi sebab curahan rahmat Allah dan permohonan do’a para malaikat. 16. Menyucikan pembacanya. 17. Pemberi kabar gembira tentang surga sebelum meninggal dunia. 18. Menyelamatkan dari masa-masa berat di akhirat. 19. Mendapatkan balasan shalawat dan salam dari Nabi Saw. 20. Memperkuat ingatan atau membuat ingat apa yang di lupakan pembacanya. 21. Mewangikan majelis atau memperindah pertemuan dan menghindarkan kita dari menyesal karena merugi pada hari kiamat. 22. Menghilangkan kefakiran. 23. Menghilangkan sifat kikir. 24. Menimbulkan kecintaan orang dan mengantarkan kepada dengan Rasul dalam mimpi. 25. Menjadi teman perjalanan menuju surga. 26. menyelamatkan dari derita kekurangan karena sepinya shalawat dalam suatu majelis. 27. Penyempurna pembicaraan setelah pujian kepada Allah Swt. 28. Menjadi sebab suksesnya hamba meniti shirat. 29. Membebaskan hamba dari mengentengkan shalawat nabi. 30. Menjadi sebab turunnya pujian baik dari Allah diantara langit dan bumi. 31. Meraih kasih sayang Allah. 32. Menjadi sumber keberkahan hidup. 33. Mengukuhkan keimanan dengan kian karibnya dengan Nabi Saw. 34. Meraih cinta Rasulullah dan menjadi kekasihnya. 35. Menjadi sumber hidayah dan menghidupkan hati. 36. Memperbaiki perangai pembacanya. 37. memperkukuh pijakan hidup dan memperkuat sikap optimis. 38. Menunaikan shalawat sebagai hak Nabi dan mensyukuri ke hadirannya sebagai nikmat terbesar bagi kita. 39. Mangandung dzikir kepada Allah, mensyukuri dan mengenal nikmat-Nya. 40. Shalawat Nabi merupakan do’a bagi kita dan di perintah oleh Allah Swt. Jadi, bershalawat meningkatkan kualitas penghambaan kita. 41. Terbentuknya pribadi luhur Nabi dalam diri. Inilah keuntung terbesar dan mulia. II. 42 Kelebihan selawat ke atas nabi s.a.w Al-Sheikh Abdul Qadir Al-Jelani Al-Hasani menyatakan kelebihan berselawat ke atas nabi di dalam kitabnya Al-Safinah al-Qadiriyah. Beliau meriwayatkan drpd Ibnu Farhun berkata ” Berselawat kepada nabi Muhammad s.a.w. itu mempunyai empat puluh dua kelebihan. Perkara ini tertulis dalam kitabnya Hadaiq Al-Anwar” 1. melaksanakan perintah Allah s.w.t 2. bersamaan dengan selawat Allah s.w.t. kepada Rasulullah S.a.w. 3. mendapat ganjaran 10x selawat drpd Allah atas setiap kali selawat yang diucapkan ( selawat drpd Allah s.w.t. bererti rahmat 4. bersamaan dengan selawat para malaikat 5. dikurniakan oleh Allah s.w.t. 10x dari darjat atas setiap satu-satu selawat 6. dituliskan oleh malaikat 10x kebaikan atas setiap selawat 7. dihapuskan oleh Allah s.w.t. 10x kejahatan atas setiap selawat 8. segala doa akan diperkenankan oleh Allah s.w.t. 9. mendapat syafaat dprd Rasulullah s.a.w. 10. mendapat keampunan Allah s.w.t. dan akan ditutup segala keaiban 11. Allah s.w.t. akan menutupi segala dukacita 12. dikurniakan maqam hampir kepada Rasulullah s.a.w. 13. mendapat darjat al-sidq 14. ditunaikan segala hajat 15. selamat sejahtera pada hari kiamat 16. Allah s.w.t dan para malaikat akan berselawat ke atas individu yang berselawat 17. mendapat khabar gembira daripada Allah s.w.t. dengan balasan syurga 18. selamat sejahtera pada huru-hara hari kiamat 19. Rasulullah s.a.w. akan menjawab secara langsung ke atas setiap selawat yang dibacakan 20. mudah mengingat semula perkara-perkara yang lupa 21. mendapat kedudukan yang baik pada hari kiamat serta tidak akan kecewa pada hari itu 22. tidak akan merasai fakir 23. terpelihara dari dihinggapi sifat bakhil 24. mendapat kesejahteraaan drpd doa Rasulullah s.a.w 25. selawat akan menjemput setiap pengucapnya ke jalan syurga 26. menjauhkan seseorg itu drpd terlibat dalam majlis-majlis yang tidak disebut padanya nama Allah dan rasulNya atau drpd majlis-majlis lagha 27. berselawat menyempurnakan kalam pujian Allah s.w.t. apabila disebut “Alhamdulillahirabbil’alamin” di dalam doa, maka akan disambut selepas itu dengan selawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w 28. selamat melintasi titisan sirat al-mustaqim pada hari kiamat 29. terpelihara drpd sifat kasar dan gelojoh 30. disambut oleh Allah s.w.t. pada hari kiamat dengan kata-kata pujian yang lunak 31. mendapat keberkatan Alalh 32. mendapat kesempurnaan iman 33. kasih dan cinta kepada Rasulullah s.a.w. 34. mendapat hidayah daripada Allah dan dikurniakan hati yang sentiasa hidup mengingati Allah s.w.t. 35. setiap selawat yang dibaca akan dibentagkan di hadapan Rasulullah s.a.w. secara langsung 36. teguh pendirian dengan kebenaran 37. berselawat bererti kita menunaikan sebahagian daripada hak-hak Rasulullah s.a.w. kea tas diri kita. di samping itu ia dianggap mensyukuri nikmat Allah s.w.t. yang mengurniakan dan mengutuskan Rasulullah s.a.w. kepada kita. 38. berselawat juga bererti zikrullah, bersyukur serta mengiktiraf segala nikmat yang dikurnikan oleh Allah s.w.t. 39. mendapat balasan rahmat yang luas daripada Allah s.w.t. 40. berselawat bereti melengkapkan pengertian berdoa dan memohon kepada Allah s.w.t. ke atas Rasulullah s.a.w. dan kepada diri sendiri 41. antara kelebihan yang paling hebat kepada setiap individu ialah akan terjelma gambaran Rasulullah s.a.w. dalam jiwanya 42. dikurniakan oleh Allah s.w.t. maqam seorang Syeikh dan Murabbi. Saudaraku, memang tidak sederhana menyelami ke agungan shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfer ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad Saw, sebagai hamba Allah, Nabi-Nya, Rasul-Nya, Kekasih-Nya dan Cahaya-Nya. Dan, semesta raya ini di ciptakan dari Cahaya Muhammad. Maka setiap detak huruf dalam shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa. “Shalawat adalah cahaya penerang sanubari, kekuatan bagi hati, ketenangan bagi jiwa, kesejukan bagi mata, wangi kasturi bagi mejelis pertemuan, kenikmatan bagi hidup, zakat bagi umur, keindahan bagi hari-hari, dan merupakan penghilang kesedihan dan kesusahan.Shalawat bisa mendatangkan kebahagiaan, kelapangan dada, kesempurnaan nikmat dan keagungan cahaya”

Rahasia Fisio Terapi Wudhu

Rukun shalat yang satu ini tentu tidak akan pernah kita lewatkan. Tentu tidak sah jika kita hendak mengerjakan shalat lima waktu tetapi meninggalkan yang satu ini…ya, apalagi kalau bukan wudhu. Saya masih terkagum-kagum dengan perintah Allah SWT dengan pekerjaan remeh yang satu ini. Kenapa tidak?? Saya amat-amati bagaimana pola wudhu , lalu bagaimana tangan bersama dengan air menyentuh anggota-anggota tubuh. Kenapa wajah yang dibasuh? Kenapa mesti telinga? Lama sekali direnungkan sampai tersibaklah sudah misteri yang menyelimuti wudhu. Setelah membaca ulasan ini saya yakin kita tidak akan menganggap enteng tentang apa arti perintah Wudhu… Dengan sedikit googling …saya menemukan Rahasia Fisioterapi Wudhu! Banyak argumentasi yang semakin mendukung. Yuk kita buka satu-persatu misteri wudhu ini : • Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan dibaliknya. Bayangkan bahwa wudhu adalah ritual pengkondisian seluruh aspek hidup, mulai dari psikologis & fisiologis. • 5 panca indera…kok kena semua tanpa terkecuali disapu oleh air wudhu. Mata, hidung, telinga & seluruh kulit tubuh. Ini betul-betul luar biasa. • Ahli syaraf/ neurologist pun telah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran. • Anda tentu pernah mendengar akupunktur kan? Coba cari tahu dimana saja letak titik-titik sensitif yang sering digunakan dalam ilmu akupunktur? Lalu kemudian amati pola wudhu. InsyaAllah anda akan segera menemukan benang merah diantara keduanya. Coba bayangkan… Pada anggota badan yang terkena perlakuan wudhu terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu. Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupunktur, suatu fenomena yang menarik bila dikorelasikan dengan kayfiyat wudhu yang disyari’atkan 15 abad yang lalu. Setelah dihitung-hitung…ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu!! Anggota Wudhu (rukun dan sunat) Jumlah Titik Akupunktur • Wajah 84 • Tangan 95 • Kepala 64 • Telinga 125 • Kaki 125 • Jumlah 493 Subhanallah!! Bayangkan jika kita melakukan itu setiap hari paling sedikit 5 kali sehari.... Ternyata kita harus semakin teliti saat menjalani wudhu. Mengapa? Coba ingat-ingat saat kita membasuh telapak kaki & tangan..... apakah sela-sela jari sering kita abaikan? Ternyata ada fakta menarik yang tidak boleh luput : Satu diantaranya adalah ketika melakukan takhlil, diantara sela-sela jari tangan dan kaki terdapat masing-masing satu titik istimewa (Ba Sie pada sela-sela jari tangan & Ba Peng Sehingga menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak, dan jari jemari kaku. pada sela-sela jari kaki). Jadi, keseluruhannya terdapat 16 titik akupunktur. Berdasarkan riset fakar akupunktur, titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulir bio energi (Chu) guna membangun homeostatis. Lain lagi tentang telinga.... ternyata ada 30 hadist yang mendukung ini. Saya pernah coba sebuah produk akupunktur yang menggunakan tenaga listrik. Lucu juga, karena alat ini disimpan di daun telinga. Dan ketika dialiri listrik rasanya seperti telinga ditusuk-tusuk. Saya semakin paham bahwa daun telinga, selain sebagai aksesoris, ternyata terkandung banyak sekali titik reseptor syaraf. Makanya, saat menyapu telinga itu jangan hanya membasuh saja, tapi harus dengan pijatan juga. Ini namanya aurikulopressure alias pijat akupunktur telinga. Subhanallah…luar biasa ternyata kandungan rahasia wudhu…

Hidup Bahagia dalam Duka, Mungkinkah?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Abdul Mannan Adakah manusia yang bisa bahagia dengan duka? Rasanya tidak mungkin ada manusia yang mau menjadikan duka sebagai suatu kebahagiaan dalam hidupnya. Itulah mengapa banyak orang yang kini rela melakukan kejahatan hanya karena agar dia tidak kehilangan pekerjaan, jabatan, ataupun kehormatan. Hampir setiap orang menolak yang namanya duka dan berusaha sekuat tenaga untuk hidup bahagia. Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang bersikap pragmatis, egois, individualis, dan hedonis. Bahkan, mereka mau melakukan apa saja yang penting dia tidak miskin, tidak dikucilkan dan tidak dihukum. Walaupun kadangkala hatinya menjerit karena letupan-letupan kesadaran yang terkadang muncul akan perilakunya yang telah melanggar aturan Tuhan, mereka tetap saja lebih memilih menjauh dari duka demi hidup bahagia. Ingkar janji, dusta, dan khianat dipaksa menjadi karakter dalam dirinya demi untuk menghindari duka. Apalagi di zaman sekarang yang himpitan ekonomi begitu berat, kejujuran sudah dianggap bukan masanya lagi, dan korupsi diyakini wajar, sehingga menjadikan sebagian besar umat manusia makin berani menggadaikan imannya. Padahal, kalau dicermati, duka yang mereka hindari dengan cara curang itu, sejatinya adalah jalan tol menuju duka nestapa yang tiada tara. Duka di dunia hanyalah sementara sebagaimana senang di dunia juga tidak selamanya. Sementara pembalasan Tuhan pasti adanya. Seorang Muslim wajib untuk hidup dengan tidak melanggar aturan Tuhan. Sekalipun terkadang untuk hidup seperti itu harus banyak melakukan pengorbanan, merasakan penderitaan, kesengsaraan, dan duka nestapa yang mendalam. Tetapi, itulah mahar yang harus kita berikan untuk bisa mendapat kebahagiaan abadi di dalam surga. Apabila kita telah memahami hal ini, insya Allah kita akan bisa menjalani hidup ini tetap bahagia meskipun harus bersahabat dengan duka. Duka sejatinya adalah mahar untuk bahagia. Hal itulah yang dilakukan oleh Nabi Yusuf AS. Sejak kecil dia hidup tidak dalam kebahagiaan. Dia menjadi anak Nabi Ya’kub yang dibenci oleh saudara-saudaranya dia pun harus rela dilempar ke dalam sumur. Kemudian, dia hidup sebatang kara di negeri orang dengan status sebagai budak belian. Tak cukup di situ, Nabi Yusuf juga difitnah, hingga harus mendekam dalam penjara. Tetapi, semua itu dilalui dengan nuansa hati yang tetap bersih dari kotoran nafsu. Kebersihan hatinya membuatnya rela di penjara. “Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh’." (QS Yusuf : 33). Demikianlah sikap Nabi Yusuf terhadap duka dalam hidupnya. Setiap fase ujian, dilaluinya dengan penuh kesabaran dan harapan akan pertolongan Allah SWT. Hingga ia diangkat derajatnya oleh Allah SWT dengan menjadi pengelola ekonomi di Mesir.

Senin, 26 Maret 2012

aku suka dia tapi aku tak tahu untuk bilang kepadanya bila aku suka jatuh cinta kepadanya dia cinta yang pertama dia yang bisa membuat aku merasa deg-degan berdebar di dada diam saat mengingatnya bulan tolong katakan bintang bantu bisikkan kepada dirinya kalau aku mau menjadi kekasihnya aku yakin diriku nanti pasti membuatnya suka kepadaku cinta kepadaku dan kita akan jadian bulan tolong katakan bintang bantu bisikkan kepada dirinya kalau aku mau menjadi kekasihnya bulan tolong katakan bintang bantu bisikkan kepada dirinya kalau aku mau menjadi kekasihnya bulan tolong katakan bintang bantu bisikkan kepada dirinya kalau aku mau menjadi kekasihnya

Minggu, 25 Maret 2012

Hukum Laki-Laki Atau Wanita Yang Bersalaman Dengan Yang Bukan Mahromnya

Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda. “Artinya : Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada dia harus menyentuh wanita yang tidak dibolehkan baginya” . [Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al-Kabir XX/211 yang ditulis oleh Al-Hafidzh Dhiya'uddin Al-Maqdisi] Dari Umaimah binti Raqiqah, dia menceritakan. “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menemui wanita-wanita yang berbai’at kepada beliau, wanita-wanita itu mengatakan. “Wahai Rasulullah, kami berbai’at kepadamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka (1) dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata. “Pada hal-hal yang kamu mampu”. Maka wanita-wanita itupun berucap. “Allah dan Rasul-Nya lebih menyayangi kami daripada diri kami sendiri, mari kami akan berbai’at kepadamu, wahai Rasulullah. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sesungguhnya aku tidak menyalami wanita, karena ucapanku bagi seratus wanita sama seperti ucapanku bagi satu wanita, atau seperti ucapanku bagi satu wanita”. (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha’, hal. 982 dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Umaimah). Kedua hadits di atas menunjukkan bahwasanya seorang wanita tidak boleh bersalaman dengan laki-laki yang bukan muhrimnya begitu juga sebaliknya, karena sentuhan merupakan langkah pendahuluan dari perzinaan. Hal itu dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau bersabda. “Artinya : Telah ditetapkan bagi anak cucu Adam bagian-bagiannya dari zina, yang dia pasti mengetahuinya. Zina kedua mata adalah berupa pandangan, zina kedua telinga berupa pendengaran, zina lisan berupa ucapan, zina kaki berupa langkah, sedangkan hati mengharap dan menginginkan, dan kemaluan yang membenarkan dan mendustainya“. Sedangkan suara-suara nyeleneh yang dikumandangkan oleh orang-orang yang senantiasa melakukan tipu daya terhadap Islam, yang mengungkapkan bahwa salaman antara laki-laki dan wanita merupakan simbol persahabatan yang tulus di antara keduanya. hal itu adalah cara-cara jahiliyah yang disifatkan oleh orang jahil (tidak berilmu) berdasarkan Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Tetapi sebaliknya, dalil-dalil yang ada bertentangan dengan apa yang mereka kumandangkan dan memperjelas kedustaan ucapan mereka. Footnote : 1. Perbuatan yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka itu maksudnya adalah mengadakan pengakuan-pengakuan palsu mengenai hubungan badan antara laki-laki dan wanita seperti tuduhan zina, tuduhan-tuduhan bahwa si Fulan bukan anak suaminya dan sebagainya.

Cerita Cinta Dan Taubatnya Al-Qass Seorang Pemuda Yang Shaleh

Al-Qass adalah orang yang paling baik ibadahnya di mata penduduk Mekkah. Pada suatu hari dia bertemu dengan Sallamah, gadis pinangan orang Quraisy. Lalu al-Qass mendengar nyanyiannya dan berhenti untuk mendengarkannya. Pada saat itulah majikan gadis itu melihat al-Qass dan berkata, “Maukah Anda masuk untuk mendengarkannya?” Al-Qass pura-pura tidak mau sampai gadis itu mengizinkannya. Al-Qass berkata, “Tempatkan saya di tempat yang sepi agar saya tidak dapat melihat dia dan dia tidak melihatku” Kemudian al-Qass masuk dan gadis itu pun menyanyi. Gadis itu tertarik kepadanya. Lalu majikannya menawarkan kepada al-Qass untuk berkenalan dengannya, tetapi al-Qass tidak mau. Pada suatu hari gadis itu berkata kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu.” Al-Qass menjawab, “Saya juga mencintaimu.” Gadis itu berkata, “Aku ingin sekali mengecup bibirmu.” Al-Qass berkata, “Saya juga.” Gadis itu berkata, “Saya ingin menempelkan dadaku ke dadamu.” Al-Qass menjawab, “Saya juga.” Gadis itu berkata, “Lalu mengapa Anda tidak melakukannya? Sungguh tempat ini benar-benar sepi.” Al-Qass menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman yang artinya: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS: az-Zukhruf:67) Saya tidak ingin kasih sayang antara diriku dan dirimu berubah menjadi permusuhan di hari kiamat.” Lalu gadis itu berkata, “Wahai al-Qass! Apakah Tuhanku dan Tuhanmu tidak menerima kita kalau bertobat kepadanya? Al-Qass menjawab, “Ya! Tetapi saya tidak aman dari kematian yang datang dengan tiba-tiba.” Kemudain al-Qass berdiri dan kedua matanya mengeluarkan air mata. Setelah itu dia tidak pernah kembali lagi ke tempat itu dan beribadahlah dia seperti sedia kala.

Ciri – Ciri Laki – Laki Yang Shaleh Dan Wanita Yang Shalehah Menurut Sifat Dan Akhlaknya

Setelah cukup lama tidak mengelola blog ini, kini saya ingin kembali memposting artikel hikmah agar kiranya lebih memberi tangguh keimanan dan ketaqwaan kita kepada ALLAH Ta’ala. Insha ALLAH Sesungguhnya seseorang hamba beroleh derajat yang shaleh lagi shalehah adalah karena katinggian ilmunya akan ajaran syar’i yang lurus lagi mengikuti segala apa-apa yang diperintahkan oleh ALLAH Tabaraka wa Ta’ala dan meninggalkan segala apa-apa yang dilarang-Nya serta mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan Adalah mereka itu beriman dan bertakwa kepada ALLAH Ta’ala serta tiada menyekutukan ALLAH dengan suatu juapun, serta beriman seperti yang dikabarkan dalam Rukun Iman Dan Rukun Islam. ALLAH Subhana wa Ta’ala Berfirman : dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Al-Hajj : 031. Dalam sebuah riwayat oleh Muaz bin Jabal ra., ia berkata: Aku pernah membonceng Nabi saw, yang memisahkan antara aku dan beliau hanyalah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau bersabda lagi: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muaz bin Jabal. Aku pun menyahut: Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau, apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muaz bin Jabal Aku menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bertanya: Tahukah engkau apa hak hamba atas Allah, bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan menyiksa mereka Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 43 Dan adalah mereka memiliki cirri-ciri sebagai berikut : MENURUT AKHLAK Akhlak adalah sesuatu yang adanya didalam diri seorang hamba menurut pola pikir serta cara berpikirnya, bagaimana akalnya dapat berfadeh tat kala ia hendak mengambil keputusan, menghadapi masalah dan sebagainya hingga iapun menunjukkannya keluar dirinya kepada orang – orang disekitarnya. 1. Mencintai Sesama Muslim ALLAH Subahan wa Ta’ala Berfirman : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Al-Fath : 29 Dan Sabda Beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam : Dari Abu hamzah , anas bin malik ra. menerangkan bahwa rasulullah saw bersabda, “tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR bukhari dan muslim) 1. Berpegang Teguh Pada Kebaikan Tiadalah baginya kemaksiatan dan dosa-dosa besar, melainkan hanya dosa-dosa kecil sedang tiap-tiap manusia tiadalah yang mampu untuk luput dari dosa kecil. Bahwasanya ia senantiasa berpegang teguh pada kebaikan dan senantiasa menjauhi maksiat yang hanya akan mendekatkan dirinya pada murka ALLAH. 2. Suka Menasehati dan Dinasehati Pada Kebenaran ALLAH Subahana wa Ta’ala Berfirman : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Al-Ashr : 3 3. Suka Instropeksi Diri Mencari – cari aib lagi kesalahan orang lain amatlah mudah, sedang ia tiadalah perlu dan tidak pula berkenan mencari kesalahannya sendiri agar ia memperbaikinya, dan demikianlah yang tersirat adanya dikalangan manusia dari kebanyakan. Sedang pada diri orang saleh lagi salehah itu adalah sebaliknya, lebih menyukai mencari kesalahan sendiri kemudian memperbaikinya. ALLAH Ta’ala Berfirman : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Al-Hujuraat : 012. 4. Penyantun Dan tidaklah ia merugikan orang lain dengan perkataan dan perbuatannya, melainkan jikalaulah orang lain dalam keadaan susah lagi pilu hatinya, melainkan dialah yang pertama memberi santunan dengan sedayamampunya baik dengan harta maupun hanya lisannya. 5. Suka Bersedekah Firman ALLAH Ta’ala : Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Al-Baqarah : 276. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. Ali-Imraan:17 6. Menjaga Lisan Dari Mu’adz bin jabal, ra, IA berkata, “Aku pernah berkata;wahai rasulullah beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukan kedalam surga dan menjauhkan dari neraka“ beliau menjawab”Engkau menanyakan sesuatu yang besar , namun hal itu menjadi ringan bagi siapa saja yang diringankan oleh Alloh Swt. Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpuasa ramadhan dan berhaji ke baitullah; kemudian beliau bersabda ‘inginkah engkau kuberitahukan mengenai pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, shadaqah itu menghapus kesalahan sebagaimana air dapat menghapus api, dan shalatnya seseorang di tengah malam “kemudian beliau membaca surat As sajdah ayat 16, (tatajaafaa junuubuhum ‘ani almadaaji’i yad’uuna rabbahum khawfan wathama’an wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna) (Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada tuhannya dengan harap-harap cemas) Kemudian beliau bersabda’inginkah kalian kuberitahukan pokok dari segala urusan dan puncak mahkotanya ?” Aku menjawab,”ingin, wahai rasulullah,; beliau bersabda, ;pokok dari segala urusan adalah Islam , tiangnnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad. Lalu beliau bersabda; maukah kalian kuberitahu kunci dari semua itu ‘? Aku menjawab “mau , wahai rasulullah, maka beliau menunjukan lidahnya seraya bersabda, “kendalikan ini” Aku bertanya,” wahai nabiyullah apakah kami akan diminta pertanggunghawaban dengan apa yang kami katakan ? beliau bersabda,”Celakalah engkau hai Mu’adz, Bukankah yang menjerumuskan manusia kedalam api neraka dengan wajah tersungkur adalah akibat lidah mereka ?(HR Tirmidzi dan dia mengatakan ini adalah hadist hasan ) 7. Suka Memaafkan dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af. Asy-Syuura: 037. MENURUT SIFAT 1. Bersifat Malu Abu mas’ud uqbah bin amr al-anshari al badri ra, berkata, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; “sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama ialah,” bila engkau tidak malu (Berbuat Dosa) maka berbuatlah sekehendak hatimu (HR Bukhari) 2. Ikhlas Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. An-Nisaa’ : 146 3. Selalu Bersyukur Jika ia beroleh lebih senantiasalah ia bersyukur pada ALLAH, jika ia beroleh kurang maka iapun tetap bersyukur dan hanya memohon karunia ALLAH di hari yang lain. Firman ALLAH Ta’ala : Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Ali-Imran : 145 Sabar Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Al-Baqarah : 153 kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. Huud:11 5. Bertawakkal Artinya ialah berserah diri sepenuhnya kepada ALLAH lagi rela atas apa-apa yang dikehendaki ALLAH atas dirinya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada ALLAH lah mereka bertawakkal. Al-Anfal : 2 6. Adil Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. An-Nahl: 90 7. Shiddiq Yaitu senantiasa berperilaku yang benar dalam kesehariannya, lagi senantiasa benar dalam perkataan dan perbuatannya, serta menjauhkan diri dari berkata dusta, tipu daya, serta perkataan dan perbuatan yang merugikan orang lain. 8. Tafakkur Dan Bertaubat Yaitu memikirkan lagi mengakui serta menyesali atas sekalian dosa dan kesalahan yang pernah ia perbuat hingga kemudian iapun segera bertaubat atas dosa-dosanya itu. ALLAH Subahana wa Ta’ala Berfirman : Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Al-Baqarah : 17 9. Mengendalikan Diri Dari Amarah Ialah suatu sifat yang disukai syaithan atas diri-diri yang tiada mampu mengendalikan dirinya dari amarah, marah adalah suatu sifat yang amat keji bagi manusia. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa salah seorang sahabat Rasulullah sedang diuji keimanan dan kesabarannya, hingga hampirlah daripadanya seorang penguji yang tiada ia kenal. Pada awalnya iapun bersabar ketika si penguji itu menguji kesabarannya dengan mendebatinya, hingga kedua kali iapun bersabar. Namun kemudian hampirlah daripadanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, iapun bersuka ria menyambut kedatangan beliau dan berkata: “apakah gerangan akan kedatanganmu wahai Rasul ALLAH..?”, belumlah sampai Rasulullah menjawab lalu si penguji itupun kembali mendebatinya hingga marahlah ia sejadi-jadinya oleh karena tamu agung (Rasulullah) yang tengah berkunjung daripadanya. Melihat hal yang sedemikian itu rasulullahpun beranjak dari tempat beliau berdiri, hingga sahabat yang tengah di uji itu betapa terkejut karenanya lalu menghampiri Rasulullah dan berkata. “Mengapakah engkau beranjak ya Rasulullah, sedang engkau belum mengucapkan satu patah kata sekalipun?” Lalu Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya..aku melihat banyak malaikat menghampirimu ketika engkau menahan amarahmu. Namun ketika Engkau meluapkan amarahmu..sungguh aku melihat malaikat-malaikat itupun beranjak pergi melainkan digantikan oleh syaithan yang mengerumunimu. Dari Abu hurairah ra. menerangkan bahwa ada seseorang lelaki berkata kepada Nabi Saw, ” berilah aku nasihat ‘ beliau menjawab” jangan marah, maka diulanginya bertanya beberapa kali , kemudian nabi bersabda,”jangan marah “(HR Bukhari) 10. Tawadhu dan Tidak Takabbur Tawadhu Ialah sifat yang kiranya menunjukkan keluasan akal dan kebaikan pandangannya, sedang Takabbur ialah sifat yang amat buruk yang menunjukkan sifat yang keji lagi berlebih-lebihan adanya atas tiap-tiap sesuatu barang kehendaknya. ALLLAH Subhana wa Ta’ala Berfirman : kepada Fir`aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong. Al-Mu’minun : 46 Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Al-Baqarah : 34 11. Bijaksana Ia adalah salah satu sifat yang hendaknya dimiliki oleh tiap-tiap pemimpin sebab ia tidak merugikan pihak manapun dalam mengambil keputusannya. Oleh karena tiap-tiap manusia adalah pemimpin, Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya ( Istri dan anak-anaknya), sedang seorang Ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya, seorang kakak adalah pemimpin bagi adik-adiknya, hingga kemudian menjadi pemimpin didaerah tinggalnya, pemimpin di kotanya,hingga pemimpin negaranya, sedang tiap-tiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. 12. Jujur Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Al-hajj:30 Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Al-Anfal : 58 13. Rendah Hati Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Al-Furqaan : 63 14. Ta’at Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. An-Nuur : 52. 15. Zuhud Yaitu lebih mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal abadi daripada sekalian perkara dunianya yang sifatnya hanya sementara. Dan kehidupan dimuka bumi hanya ia jadikan sebagai tempat untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat, karena kehidupan didunia hanyalah suatu kenikmatan yang memperdaya dan kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang – orang yang taqwa. Nikmat dan karunia ALLAH Kepada Orang-Orang Saleh dan Salehah ALLAH Tabaraka wa Ta’ala Berfirman : Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. An-Nisaa’ : 69 Dari Abu Hurairah ra.: Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: bahwa ALLAH berfirman: Aku sediakan untuk hamba-hamba- Ku yang saleh atau salehah sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak terbesit dalam hati manusia. Bukti kebenaran itu terdapat dalam Alquran: (As Sajdah:17) Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 5050 Adalah lebih banyak ciri-ciri orang saleh lagi shalehah menurut Akhlak dan Sifat mereka, sedang perkabaran ini tiadalah.. melainkan sedikit sekali. Untuk itu marilah wahai akhi lagi ukhti sekaliannya, berikhtiar lagi berusaha untuk menjadi orang-orang yang sedemikian mulia ini, agar ALLAH memasukkan kita pada golongan hamba-hamba ALLAH yang shaleh lagi shalehah serta memasukkan kita kepada golongan orang-orang yang beruntung. Firman ALLAH Ta’ala : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al-Baqarah:148 Jika terdapat suatu perkataan yang tiada berkenan bagimu, maka kepada ALLAH aku memohon ampun sedang kepada kamu sekalian aku memohon maaf. Jazzakumullahu khairaan katshiron…