Jumat, 23 Maret 2012
7 Cara Pacaran Islami ALa Khadijah-Muhammad
1. TA’ARUF PASIF: Khadijah mulai
“naksir” Muhammad lantaran
mendengar kabar mengenai
kemuliaan akhlak beliau.
Saat itu, masyarakat Makkah
sedang ramai membicarakan
Muhammad bin Abdullah, seorang
pemuda yang bisa menjaga
kejujuran dan keluhuran hati,
sementara para pemuda pada
umumnya suka berfoya-foya.
Khadijah naksir itu bukan lantaran
ketampanan atau pun
kekayaannya. Malah, saat itu
Muhammad saw. merupakan
pemuda yang miskin.
2. TA’ARUF AKTIF: Khadijah
menyaksikan sendiri kemuliaan
akhlak Muhammad melalui
perbincangan dalam tatap muka
langsung.
Pada mulanya, ketertarikan
Khadijah kepada Muhammad
bukanlah dalam rangka
kepentingan asmara, melainkan
bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah
seorang pengusaha kaya. Lantas,
Khadijah pun memanggil
Muhammad dan mengajaknya
berbincang-bincang mengenai
perdagangan. Dengan
perbincangan seperti ini, Khadijah
bisa mulai mengecek apakah
benar bahwa Muhammad
berakhlak mulia.
3. TANAZHUR (TA’ARUF INTERAKTIF):
Khadijah dan Muhammad
menjalin kerja sama
pengembangan karir.
Melalui perbincangan tersebut tadi,
Khadijah menganggap bahwa
Muhammad adalah sosok yang ia
butuhkan untuk berdagang ke
negeri Syam. Muhammad pun
menerima tugas itu dengan
senang hati. Dengan interaksi
seperti ini, Khadijah dapat me-
recheck atau melakukan pengujian
terhadap Muhammad sebelum
benar-benar yakin bahwa
Muhammad memang berakhlak
mulia.
4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah
mengalami sendiri indahnya
menjalin kebersamaan dengan
Muhammad yang berakhlak
mulia.
Sepulangnya Muhammad saw. dari
negeri Syam, Khadijah menerima
laporan langsung dari beliau
mengenai penunaian tugas
berdagang tersebut tadi. Khadijah
sangat gembira dan terlihat
antusias sekali menyimak laporan
tersebut. Secara demikian,
tumbuhlah rasa cintanya kepada
beliau. Dari hari ke hari, cintanya
semakin mendalam.
5. TANAZHUR BERJARING: Khadijah
memanfaatkan jaringan
(network)-nya untuk
memperlancar interaksinya
dengan Muhammad.
Maisarah ialah orang kepercayaan
Khadijah yang menyertai
Muhammad berdagang ke Syam. Ia
pun menceritakan pengalaman-
pengalaman yang ditemuinya
selama perjalanan. Laporan-
laporannya mengenai kemuliaan
Muhammad menjadikan Khadijah
semakin berhasrat untuk menjadi
istri beliau.
6. TANAZHUR BERMEDIA: Khadijah
mengerahkan “agen cinta” untuk
memperlancar hubungannya
dengan Muhammad.
Dalam tradisi Arab ketika itu, bila
seorang perempuan kaya
mendatangi seorang pemuda
untuk meminta menikahinya, maka
itu dipandang memalukan. Untuk
menyiasatinya, Khadijah pun
mengutus Nafisah, seorang
kepercayaannya lainnya, untuk
membujuk Muhammad supaya
mau melamar dirinya.
7. KHITBAH: Muhammad melamar
Khadijah untuk menjadi istri
beliau.
Di depan keluarga Khadijah,
Muhammad saw. melamarnya.
Maharnya 20 ekor unta. Lamaran
pun diterima. Pernikahan itu
sendiri dilaksanakan pada waktu 2
bulan 15 hari setelah Muhammad
datang dari Syam. Usia Muhammad
saat itu 25 tahun, sedangkan
Khadijah 40 tahun.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar