Jumat, 13 April 2012

TERTIPU

Menjelang Asyar seorang tukang sayur masuk rumah. 'Mari diskusi soal ketuhanan'. katanya. Melihat kemunculannya yang misterius saya yakin orang ini sebangsa malaikat, wali atau setidaknya sufi yang menyamar. 'Saya tidak suka diskusi. Lebih-lebih masalah keyakinan', jawab saya. 'Mengapa?' 'Sy ingin yakin. Diskusi, olah pikir, senam akal membuat keyakinan saya tumpul, sembahyang jadi asal2an dan malas2an' Meluncurlah nasihatnya: ''Tuhan memberimu akal fikiran utk dimanfaatkan. Kamu khalifah Tuhan karena akalmu. Binatang lain tidak diberi karunia ini. Afala ya'qiluun. Afalaa yatafakkaruun. Mengoptimalkan akal adl bentuk syukur. Dan keyakinan Tauhidmu itu justru harus kau pupuk dengan akalmu'. Bicaranya padat, tegas dan sarat hikmah. Tipikal orang pintar, orang alim. Saya tunduk hormat. Kami pun lalu tenggelam diskusi. Panjang-lebar-menukik-mendalam-berbelit2-berbusa2. Bukan saja perihal tuhan -- theisme, atheisme, dalil adaNya, dalil tidak adaNya, Friedrich Nietzsche, Richard Dawkin, Sam Harris, Christopher Hitchens, Daniel Dennett,Theologi, Ilmu Kalam, Asy'ary, Jabary, Mu'tazily, Mullasadra, Syahrawardi-tapi juga hal lain seputar takdir, nasib manusia, pahala, dosa, kenabian, surga-neraka, kemungkinan kiamat, dll. Pendek kata perkara keilmuan, sophisticated, dan, ini yg penting, non-duniawi. Begitu serunya hingga keras suara azan dr loudspeker masjid depan rumah nyaris tak terdengar. Sudah begitu kami masih menaikkan volume bicara untuk menandingi muazin. Habis sudah. Sesekali saya melontarkan pernyataan nakal memicu adrenalin merangsang pikiran. Tamu saya senang. Dipujinya saya. Dia bilang saya pintar, kritis, ilmunya luas, calon ilmuwan, ulama pewaris nabi. Hati saya berbunga. *Alahkah bodohnya. Tetangga saya, pensiunan tentara yang sekarang menekuni agrobisnis, lewat. Beliau teman di masjid. 'Jangan lupa jamaah Pak' serunya. Tamu saya kurang senang. Malah 'Pecinta dunia', gumamnya. 'Betul', jawab saya dalam hati, 'sok religius'. Kami diskusi lagi. Kali ini temanya mengkritisi keadaan: pemerintah dan dpr tidak becus, sistem pendidikan buruk, generasi muda bobrok, berita dan acara tivi murahan dan bodoh, dsbdsb. Tukang sayur ini pintar nian. Analisisnya cerdas2-sinis seperti para cerdik cendekia dalam 'KOTAK PINTAR' (Stupid Box) atau televisi itu. Kagum dan hormat saya makin bertambah, menerbitkan perasaan sungkan. Orang-orang berangkat ke masjid menjadi tidak menarik. Mereka berlalu seperti bayangan. 'Ini moment langka. Bolehlah sesekali tidak berjamaah ke masjid', begitu saya menenangkan bagian diri yang sejak tadi gelisah. Mendadak tamu saya berdiri, mendekat, dan berbisik. "Diskusi kita ini adl majelis ilmu.Ratusan malaikat beramai mendoakan'. Kembali hati saya berbunga2 bangga. Kali ini karena merasa terlibat perkara penting dan mulia. Kami diskusi lagi sampai Azan magrib bergema. 'Ya Allah, belum shalat asyar!'. Tamu saya yang malaikat atau wali diam. Cuek. Saya geram. 'Berbuih kita bicara Tuhan, sampai tidak sholat. Bagaimana ini?!' Bukannya menyesal, tamu saya --yg terus menunduk sejak azan tadi-- malah terkekeh. Dengan pundak bergoyang menahan tawa, pelan dia mendongak. Saya terkejut mendapati wajah sufinya tidak lagi di sana. Matanya menyala merah. Kepalanya tumbuh tanduk. Ketika qomat melengking, tamu saya lenyap. Setan itu pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar